27.4 C
Kudus
Kamis, 9 Februari 2023
BerandaPatiYoyok Dwi Prasetyo, Curahkan Cerita Sebagai Pengajar Lewat Buku ‘Guru Pelacur’

Yoyok Dwi Prasetyo, Curahkan Cerita Sebagai Pengajar Lewat Buku ‘Guru Pelacur’

- Advertisement -spot_img

PATI,suaramuria.com – Banyak cara dilakukan untuk mencurahkan keresahan hingga gagasan yang terpendam. Yoyok Dwi Prasetyo memilih mencurahkan pengalamannya lewat karya buku terbarunya “Guru Pelacur”.

Dalam buku terbitan Soleil du Monde itu, Yoyok menghadirkan sebanyak 67 cerita tentang perjalanannya selama belasan tahun menjadi guru.

Baginya, menjadi guru tak sekadar menjadi pengajar bagi anak didiknya, namun diapun mendapatkan banyak hikmah dalam kehidupannya.

BACA JUGA : Lewat Buku MENCEPIT, Aipda Subkhan Bertutur Tentang Terorisme

Guru Pelacur berasal dari sebuah kisah di China yang kemudian menjadi motivasinya untuk menjadi guru yang baik. Cerita itu mengisahkan seorang guru muda bernama Xia yang rela menjadi seorang pelacur hanya agar bisa membangun sekolah tempatnya menjadi guru.

“Meskipun apa yang dilakukannya tak dapat dianggap benar, tapi hal itu tak membuat para siswanya mencemooh Xia. Bahkan ketika kematian tragis menimpanya, berpasang-pasang mata melelehkan air mata mengantar kepergiannya. Ada juga sekolah yang menurunkan benderanya menjadi setengah tiang sebagai tanda duka cita,” katanya.

Buku berjudul Guru Pelacur miliknya itu baru saja diterbitkannya pada Oktober ini. Ada 421 halaman dari puluhan judul yang disajikan. Semuanya merupakan cerita sekali duduk sehingga pembaca bisa mulai membacanya dari bagian manapun.

“Sebenarnya ini merupakan lanjutan dari buku berjudul “Guru Monyet” yang telah menjadi best seller sebelumnya,”tambahnya.

Dua Bagian

Selain cerita tentang “Guru Pelacur” dalam buku itu juga banyak berisikan cerita tentang pengalamannya saat menjadi guru. Dia membaginya menjadi dua bagian yakni saat mengajar di tanah air dan saat belajar di Perancis.

“Isinya tentang kisah hikmah saat dibawakan ketika mengajar di kelas. Baik saat di Indonesia dan Perancis. Kebetulan saat di Perancis saya banyak bertemu orang, mendapatkan banyak pengalaman, termasuk model pembelajaran yang ada disana juga saya suguhkan lewat buku ini,” terangnya.

Gaya bahasa yang sederhana dan tidak bertele-tele menjadikan buku ini menjadi begitu mudah dibaca dan tidak membosankan. Terlebih dengan keberadaan mata air yang dapat memberikan motivasi bagi para pembacanya. Apalagi bagi seorang pendidik.

Uniknya, dalam tulisannya itu banyak dimasukkan nilai-nilai agama hingga ajaran Jawa. Namun kesemuanya itu mampu dikemas dengan apik hingga seolah tidak menggurui.

“Menjadikan siswa menjadi baik itu lebih bermanfaat daripada sekadar menjadikan mereka seperti robot yang pintar tapi tak mempunyai jiwa,” jelasnya. (srm)

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img

Stay Connected

443FansSuka
397PengikutMengikuti
37PengikutMengikuti
7,164PelangganBerlangganan

Berita Terkait

- Advertisement -spot_img

Berita Suara Muria Terkini

- Advertisement -spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini