mesin untuk perajinan mainan tradisional
Mesin produksi mainan tradisional yang dibuat UMK untuk perajin mainan tradisional di Jepara. (foto : suaramuria.com)

KUDUS, suaramuria.com – Prihatin melihat produsen mainan lokal hanya mengandalkan peralatan manual, Universitas Muria Kudus (UMK) membuat mesin untuk perajin mainan tradisional. Dengan mesin itu diharapkan produktivitas meningkat.

Ketua Tim Pengabdian UMK Imaniar Purbasari mengatakan, mesin yang dibuat UMK itu diserahkan kepada perajin mainan anak di Desa Karanganyar, Kecamatan Welahan, Kabupaten Jepara. “Mereka sebelumnya masih menggunakan alat manual.

Melihat itu, kami langsung berinisiatif untuk membuat masin atau alat yang memudahkan pembuatan mainan, karena di pasaran belum ada,” katanya, Sabtu (27/6).

BACA JUGA : UMK Sumbangkan Ratusan APD ke DKK Kudus

Perajin di desa itu banyak memproduksi mainan tarik, trotokan, dan kitiran. Semuanya mainan tradisional atau jadul. “Semuanya dikerjakan secara manual, padahal permintaan mainan tradisional tersebut masih cukup banyak,” ujarnya.

Semua mainan rata-rata menggunakan bahan spon. Untuk itu, pihaknya membuat mesin pemotong spon hidrolis. Imaniar mengatakan, pihaknya membuat mesin berdasarkan hasil survei dan riset kebutuhan para perajin. Dengan harapan, mesin yang dibuat mampu digunakan secara maksimal, sesuai kebutuhan perajin mainan.

“Mesinnya sederhana, bisa gonta-ganti cetakan dan kapasitasnya lebih besar,” terangnya.

Untuk operasional mesin cukup mudah. Cukup menekan tombol on, maka mesin hidrolis langsung bisa bekerja. Lalu, tuas tekan digerakkan. Maka silinder hidrolis yang membawa cetakan potong untuk memotong bahan.

Mesin tersebut diklaim memiliki beberapa kelebihan. Selain operasional mudah, mesin juga lebih efisien, karena tidak membutuhkan banyak tenaga. Para perajin pun bisa mengoperasikannya dengan duduk.

Inovasi Baru

Tak hanya itu, dengan adanya mesin tersebut, produk mainan yang diproduksi bisa konsisten. Karena memiliki cetakan yang sama dan dibuat dengan mesin hidrolis yang memiliki tingkat presisi tinggi.

Karena mesin untuk perajin mainan tradisional ini adalah inovasi baru, lanjut Imaniar, tentu masih perlu penyempurnaan dan biaya tambahan listrik. Selain itu mesin belum bisa berjalan model auto, karena rangkaian masih sederhana.

Sebelum pembuatan mesin hidrolis, pihaknya juga sudah melakukan pendampingan di perajin mainan tersebut. Baik berupa manajamen usahanya hingga pendampingan berupa pembuatan model atau gambar yang lebih menarik, sesuai dengan kesukaan anak-anak saat ini. “Sebelumnya, gambarnya masih jadul, belum menyesuaikan keadaan terkini,” katanya. (SRM)

Tinggalkan Balasan