- Advertisement -spot_img
28.9 C
Kudus
Rabu, 23 Juni 2021
BerandaKudusTim Gabungan Bubarkan PKL Tradisi Bulusan

Tim Gabungan Bubarkan PKL Tradisi Bulusan

- Advertisement -spot_img

KUDUS, suaramuria.com – Tim gabungan dua kecamatan, Jekulo dan Mejobo, Kabupaten Kudus, Senin (17/5) siang membubarkan pedagang kaki lima (PKL) tradisi Bulusan di perbatasan kedua daerah.

Kehadiran pedagang di ”pasar tiban” Bulusan dikhawatirkan menimbulkan kerumunan warga hingga memicu klaster baru Covid 19.

Penertiban diawali di Desa Tenggeles, Kecamatan Mejobo yang berdekatan dengan Jalan Pantura Timur Kudus Pati. Sebelum pandemi, saat prosesi syawalan Bulusan tempat tersebut dipastikan ramai pedagang dan pengunjung. Kedatangan pedagang dan pembeli sering menimbulkan ketersendatan pada akses utama Semarang-Surabaya.

”Kami sudah berkoordinasi dengan Kecamatan Mejobo,” kata Camat Jekulo, Wisnubroto Jayawardhana didampingi Kapolsek AKP Supartono dan Danramil Kapten A Basyir.

BACA JUGA : Wisata Air Logung Ditutup Karena Standar Keamanan Tak Layak

Tradisi Bulusan yakni tradisi yang biasanya digelar pada tujuh hari setelah Idul Fitri. Tradisi itu untuk berpusat di makam Mbah Dudo yang diyakini sebagai penyebar Islam dan cikal bakal Dusun Sumber di Desa Hadipolo, Kecamatan Jekulo, Kabupaten Kudus.

Sebelum pandemi Covid-19, tradisi Bulusan biasanya digelar dengan arak-arakan warga menuju makam Mbah Dudo. Tradisi itu mengundang banyak PKL yang memadati jalan kampung menuju makam Mbah Dudo.

Setelah muncul pandemi Covid-19, tradisi tahunan itu pun ditiadakan.

Sebelum ditertibkan, tim gabungan telah menggelar sosialisasi kegiatan tersebut melalui pemerintahan desa setempat. Rupanya, hal tersebut tidak diindahkan. Sejak Minggu (16/5) sore sudah muncul lapak-lapak pedagang.

”Hampir semuanya berasal dari luar kota,” jelasnya.

Data lapangan, jumlah PKL yang ditertibkan mencapai 16 orang. Mereka menjual makanan minuman, gerabah dan makanan serta minuman dan mainan anak-anak.

”Kehadiran mereka akan memancing warga lainnya sehingga menimbulkan kerumunan,” tandasnya.

Persoalan Baru

Dikhawatirkan, kerumunan menimbulkan persoalan baru di masa pandemi seperti sekarang ini. Pihaknya terpaksa harus melarang PKL Bulusan berjualan tahun ini. Tahun lalu, kehadiran pedagang dinilai relatif lebih mudah dikendalikan dibandingkan saat sekarang.

”Kalau prosesi Syawalan Bulusan tetap diperbolehkan dengan ketentuan pemberlakukan protokol kesehatan tetap, salah satunya membatasi peserta,” tandasnya.

Kades Hadipolo Sulaiman Soleh, ketika dikonfirmasi menyatakan kehadiran PKL di luar kewenangannya. Mereka biasanya datang menjelang puncak Syawalan.

”Untuk mengantisipasi kerumuman, kami akan memasang spanduk imbauan di sejumlah titik,” ujarnya. (srm)

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img

Stay Connected

1,011PengikutMengikuti
2,458PengikutMengikuti
7,164PelangganBerlangganan

Must Read

- Advertisement -spot_img

Related News

- Advertisement -spot_img

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: