permainan tradisional
Sejumlah anak-anak terlihat begitu antusias saat memainkan permainan tradisional di Desa Pagerharjo, Kecamatan Wedarijaksa, Kabupaten Pati. (foto: suaramuria.com)

PATI, suaramuria.com – Cukup panjangnya waktu belajar dari rumah membuat tak sedikit merasakan kejenuhan. Hal itu menjadikan Muhammad Toyyib, warga Desa Pagerharjo, Kecamatan Wedarijaksa berinisiatif menggiatkan permainan tradisional bagi anak di desanya.

Muhammad Toyyib memang dikenal sebagai pegiat dolanan tradisional. Dia banyak mengkoleksi maupun memainkan permainan tradisional seperti panggalan atau gasing kayu, lompat tali, egrang, kelereng dan lain sebagainya.

BACA JUGA : Sarwi, Difabel Kreatif di Pati Terampil Membuat Mebel

Awal mula dia mengenalkan kembali permainan tradisional itu lantaran kegelisahannya melihat banyaknya anak yang bermain game online yang dinilainya lebih banyak sisi negatif bila dibandingkan positif.

“Anak belajar daring, habis itu bermain gim daring, kan anak menjadi jenuh. Padahal kebanyakan gim online yang populer dan dimainkan anak-anak itu sarat dengan aksi kekerasan,” ujarnya saat ditemui di rumahnya.

Oleh karena itulah dia tergerak untuk mengambil peranannya dengan melihat perubahan perilaku anak di masa pagebluk. Caranya dengan menghadirkan permainan tradisional sebagai ruang bermain yang sehat.

“Saya kenalkan dengan membuat mainan jadul seperti masa kecil saya. Seperti panggalan, lompat tali, egrang, kelereng dan sebagainya,” jelasnya.

Rupanya lantaran keseruan saat bermain permainan tradisional itu membuat, anak-anak di sekitar lingkungannya tertarik untuk bergabung memainkan. Pria berusia 38 ini pun semakin giat untuk membuat aneka dolanan tradisional, termasuk permainan yang sudah punah.

“Misalnya panggalan, permainan ini sudah lama punah padahal banyak nilai yang bisa diambil dari permainan ini, seperti kompetisi, teamwork, kreatif, dan khususnya melatif gerak motorik anak,” paparnya.

Hiburan Alternatif

Ia juga telaten untuk mendampingi dan mengedukasi permaian tradisional. Misinya sendiri sebagai hiburan alternatif dan melestarikan local wisdom dalam bentuk permainan yang nyaris hilang.

“Bentuk keprihatinan dan untuk melestarikannya, karena apa-apa saat ini larinya ke gawai. Sehingga interaksi sosial secara tatap muka berkurang dan efeknya tidak baik untuk mental anak, seperti berkurangnya rasa empati,” tuturnya.

Uniknya dalam setiap permainan itu mereka tetap disiplin dalam menerapkan protokol kesehatan. Ia menyebut, jika anak telah terbiasa menerapkannya, maka mudah bagi orangtuanya untuk turut mengikuti hal serupa.

“Kedepannya saya berharap membangun rumah dolanan tradisional bagi anak, terlebih menjadi wisata edukasi. Di situ ingin saya isi dengan buku-buku, permainan tradisional, cerita tentang kearifan lokal, pokoknya mengedukasi anak lah Sebagai tempat bermain yang sehat bagi anak secara jasmani dan rohani,” inginnya.

Tinggalkan Balasan