- Advertisement -
Beranda Jaga Satru Rakyan Semi, Dharmaputra Majapahit Dari Lasem

Rakyan Semi, Dharmaputra Majapahit Dari Lasem

- Advertisement -
Jejak Majapahit di Lasem

Penulis : Abdullah Hamid, Pustaka Sambua

 

Lasem sudah membuat sejarah sejak awal berdirinya Majapahit. Semua itu berkat  Rakryan Semi asal Lasem. Rakyan Semi merupakan 1 dari 7 Dharmaputra, pasukan elit Majapahit yang jumlahnya dibatasi.  Kisah tentang Pasukan Dharmaputra itu tertulis dalam kitab Negara Kertagama dan Pararaton.

Negarakertagama menceritakan pasukan bernama Dharmaputra dibentuk pada awal-awal berdirinya Majapahit oleh Raden Wijaya, pendiri sekaligus raja pertama kerajaan tersebut.

Sementara Pararaton menyebutkan, para Dharmaputra disebut sebagai pengalasan wineh suka, yang artinya pegawai istimewa yang disayangi raja. Mereka diangkat oleh Raden Wijaya.

Pasukan ini bertugas mengawal dan mengamankan raja. Tidak main-main, anggotanya hanya tujuh orang. Mereka adalah Ra Kuti, Ra Semi, Ra Tanca, Ra Wedeng, Ra Yuyu, Ra Banyak, dan Ra Pangsa.

Mereka adalah tokoh-tokoh yang mengawal Raden Wijaya ketika dikejar Jayakatwang yang menyerbu Singasari pada masa kekuasaan raja Kertanegara.

Ra Semi adalah seorang pemangku kekuasaan Majapahit di Lasem. Dia ditugaskan menjadi Dharmaputra dan mendapat gelar Rakrian (Ra) Semi.

Namun nasib Ra Semi dan anggota pasukan elite lainnya di sisa hidupnya berakhir tragis.

Dikisahkan selepas kematian Raden Wijaya, Jayanegara naik tahta sebagai raja Majapahit. Sayangnya raja muda ini banyak dipengaruhi oleh tokoh bernama Mahapati yang dikenal licik. Kondisi ini memunculkan banyak ketidakpuasan di kalangan pejabat, termasuk Dharmaputra

Gesekan Dharmaputra dengan pemerintah Majapahit dimulai dari peristiwa pembunuhan Patih Nambi. Dalam Kidung Sorandaka dikisahkan pada 1316 ayah Patih Nambi yang bernama Pranaraja meninggal dunia di Lumajang. Salah satu anggota Dharmaputra yaitu  Ra Semi ikut dalam rombongan pelayat dari Majapahit. Kemudian terjadi peristiwa tragis di mana Nambi difitnah melakukan pemberontakan oleh seorang tokoh licik bernama Mahapati. Mahapati memang mengincar posisi Nambi.

Raja Majapahit saat itu adalah Jayanagara putra Raden Wijaya. Karena terlanjur percaya kepada hasutan Mahapati, ia pun mengirim pasukan untuk menghukum Nambi. Saat pasukan Majapahit datang menyerang, Ra Semi masih berada di Lamajang bersama anggota rombongan lainnya. Mau tidak mau ia pun bergabung membela Nambi. Akhirnya, Nambi dikisahkan terbunuh beserta seluruh pendukungnya, termasuk Ra Semi.
Ra Semi Terbunuh

Namun, Pararaton menyebutkan pada tahun 1318 Ra Semi melakukan pemberontakan terhadap Majapahit. Berita ini cukup berbeda dengan naskah Kidung Sorandaka yang menyebutkan Ra Semi tewas membela Nambi tahun 1316, candrasengkala dengan tahun saka nora-weda-paksa-wong (1240 Syaka).

Pararaton mengisahkan secara singkat ‘pemberontakan’ Ra Semi terhadap pemerintahan Jayanagara. Pemberontakannya itu ia lakukan di daerah Lasem. Akhirnya pemberontakan kecil ini dapat ditumpas oleh pihak Majapahit di mana Ra Semi akhirnya tewas dibunuh di bawah pohon kapuk. .

Terbunuhnya Ra Semi memunculkan dendam enam anggota Dharmaputra lainnya. Puncaknya pada 1319 Ra Kuti bersama anggota Dharmaputra lainnya berhasil menggalang kekuatan untuk memberontak.

Dari ke tujuh Dharmaputra tersebut yang paling terkenal mungkin Ra Kuti dan Ra Tanca. Ra Kuti terkenal karena sempat berhasil menduduki Istana Kerajaan dan memproklamirkan diri secara sepihak menjadi Raja Majapahit, sementara Ra Tanca terkenal karena membunuh Jayanegara. Namun akhirnya pemberontakan dapat ditumpas oleh Gajah Mada pimpinan pasukan elit Bhayangkara.

Tidak banyaknya catatan tentang Dharmaputra termasuk dalam prasasti yang ditinggalkan kerajaan tersebut. Minimnya catatan ini kemungkinan besar karena ketujuh orang ini pada akhirnya semuanya tewas sebagai pemberontak pada masa pemerintahan raja kedua Majapahit, Jayanagara. Seluruh personel pasukan elite ini tewas.  Hal ini dapat dimaklumi karena naskah ini merupakan sastra pujian sehingga penulisnya, yaitu antara lain Mpu Prapanca merasa tidak perlu menceritakan pemberontakan seorang pahlawan yang dianggapnya sebagai aib. ()

- Advertisement -
- Advertisement -

Stay Connected

1,011PengikutMengikuti
2,458PengikutMengikuti
7,164PelangganBerlangganan

Must Read

- Advertisement -

Related News

- Advertisement -

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: