kantor pos pati
Petugas Kantor Pos Pati mengantarkan BST kepada salah seorang penerima. (foto : suaramuria.com)

PATI, suaramuria.com – Petugas Kantor Pos Pati berinisiatif jemput bola mengantar bantuan sosial tunai (BST) kepada warga yang kesulitan mengambil langsung.

Keluarga Murtini, warga Desa Semampir, Kecamatan Kota, Kabupaten Pati misalnya. Mereka tak menyangka ada petugas Kantor Pos Pati yang datang mengantar BST, Jumat (15/5) pagi.

Murtini menjadi salah satu warga yang masuk dalam daftar penerima. Namun di usianya yang ke 79 tahun ini, dia mengalami sakit-sakitan. Dia bahkan kesulitan berjalan dan harus berada di atas kursi roda untuk kesehariannya.

BACA JUGA : Langka, Belasan Penerima Kembalikan BST di Pati

Menurut Yoyok Sutaryo, anaknya, Murtini juga sudah pikun. “Ibu kesulitan untuk bergerak apalagi jika harus datang ke kantor Pos. Tidak tahunya petugas Kantor Pos yang datang ke rumah. Kami sangat bersyukur,” terang Yoyok.

Priotitas Lansia

Kepala Kantor Pos Gerardio SW mengatakan, dalam penyaluran BST langsung ke penerima, pihaknya memberikan prioritas bagi lansia, orang yang sakit dan berkebutuhan khusus. Bilamana ada permintaan desa pihaknya siap mengantarkan hingga ke titik rumahnya.

“Sementara jika ada lansia yang datang ke kantor Pos akan kami prioritaskan tanpa antre. Mengingat mereka memiliki tingkat resiko cukup tinggi,” katanya.

Gerardio juga turut mengajak masyarakat untuk dapat mematuhi jadwal pengambilan BST sebagai upaya antisipasi pencegahan Covid-19. Pihaknya telah membuat penjadwalan pengambilan sehingga tidak sampai terjadi penumpukan keramaian warga.

“Tidak perlu khawatir. Kalau tahap pertama dan kedua tidak bisa mengambil, masih bisa diambil semua di tahap ketiga,”terangnya.

Terkait belasan warga yang merasa mampu dan memilih mengembalikan, Gerardio mengatakan jika itu bukan mengembalikan uang BST melainkan memilih mengembalikan surat undangan penerimaan serta tak hadir untuk mengambil bantuan tersebut.

Sementara untuk latar belakangnya dikatakannya desa yang lebih memahami namun diperkirakan merupakan karyawan dengan gaji diatas upah minimum kabupaten (UMK).

Diperkirakan jumlah warga yang memilih tidak mengambil BST di Pati pun terus bertambah. Diantaranya yakni Sri Atin, warga Desa Tegalharjo, Kecamatan Trangkil.

Ma’ruf, suami Sri Atin mengatakan dirinya telah membuat surat pernyataan yang menyatakan menolak BST dari Kemensos untuk bisa dialihkan kepada orang yang lebih berhak. (SRM)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here