tradisi wiwitan
Petani Desa Jambean Kidul, Kecamatan Margorejo menjalankan tradisi wiwitan sebelum panen. (foto: suaramuria.com)

PATI, suaramuria.com – Petani di Desa Jambean Kidul, Kecamatan Margorejo, Kabupaten Pati, tidak meninggalkan tradisi leluhur berupa tradisi wiwitan. Tradisi doa bersama menjelang panen yang telah berlangung lama tetap terjaga.

“Tasyakuran dan berdoa bersama di sawah selalu kami lakukan, terutama ketika akan memanen padi. Kebiasaan ini tidak kami hilangkan karena memiliki makna positif,” ujar Ketua Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A) Darma Tirta Sumber Makmur Desa Jambean Kidul, Kecamatan Margorejo Kamelan di sela-sela doa bersama, Selasa (18/2).

Doa bersama yang diikuti puluhan petani dan dihadiri jajaran Forkompincam Margorejo serta perwakilan Dinas Pertanian itu, berlangsung di atas tanggul Sungai Juwana. Tepatnya di atas tanggul sungai yang berdekatan dengan mesin pompa air.

Selain sebagai ungkapan syukur kepada Tuhan, menurutnya tradisi wiwitan merupakan bentuk keseimbangan hubungan antara manusia dan alam. Tuhan menganugerahkan alam kepada manusia kemudian manusia bertugas mengelolanya dengan baik.

BACA JUGA: 275 Hektare Sawah Terendam Gara-gara Eceng Gondok

Wiwitan juga memupuk semangat untuk menjaga kelestarian alam, termasuk menjaga sumber air. Mengingat, petani bergelut dalam pekerjaan yang berhubungan dengan alam.

“Rasa syukur kami begitu besar karena setiap tahun bisa panen. Sekaligus kami memohon kepada Tuhan melalui doa agar diberi hasil yang baik pula serta mendapat keselamatan untuk seluruh warga desa,” tandasnya.

Di desa yang dikenal sebagai lumbung padi di Margorejo itu terdapat 210 areal padi yang siap panen. Luasan tersebut selama ini mendapat suplai irigasi dari sistem pompanisasi Sungai Juwana yang dikelola P3A Darma Tirta Sumber Makmur.

“Ada 40 hektare lahan padi yang berpotensi puso karena tergenang banjir sejak awal Januari. Itu karena Sungai Juwana yang dangkal,” lanjutnya.(SRM)

Tinggalkan Balasan