Pesan Transformatif Ramadan Era Corona
Jamal Ma’mur Asmani

Oleh Jamal Ma’mur Asmani

RAMADAN 1441 hijriyah menyapa umat Islam Indonesia dan dunia. Umat Islam akan menjalani ritual puasa sebulan penuh.

Bulan suci yang menjadi wahana refleksi, kontemplasi, dan evaluasi umat Islam dunia ini, menjadi momentum strategis untuk melakukan reposisi, revitalisasi, dan refungsionalisasi nilai-nilai dan budaya yang dirasa sudah tidak relevan dengan spirit keislaman dan kemanusiaan.

Sudah waktunya umat Islam menjadi aktor yang menentukan percaturan dunia dalam segala aspek kehidupan.

Alquran dan hadis mendorong umat Islam menjadi umat yang kuat dalam bidang akidah, ilmu, moral, teknologi, ekonomi, pendidikan, dan politik sehingga umat Islam mampu menjadi umat terbaik yang berperan dalam amar ma’ruf nahyi munkar (memerintahkan kebaikan dan mencegah kemungkaran).

Menurut Imam Ghazali dalam kitab Ihya’ Ulumiddin, jalan terbaik umat Islam menegakkan amar ma’ruf nahyi munkar adalah dengan menjadi pemimpin formal. Sehingga, mempunyai kekuatan struktural dalam memberantas kemungkaran dan menegakkan kebenaran, keadilan, dan kemanusiaan yang bersumber dari ajaran Allah dan Rasulullah.

Jika level kepemimpinan umat Islam tidak hanya terbatas Negara, tapi dunia, maka kekuatan umat Islam dalam menegakkan keadilan dan memberantas kemungkaran menjadi level dunia. Umat Islam tidak dipandang sebelah mata, tapi eksistensinya benar-benar diperhitungkan dalam panggung dunia.

Tentu kebersamaan, kekompakan, dan persatuan menjadi kunci dalam konteks ini. Sehingga. mampu menggerakkan kebaikan, kebenaran, dan keadilan serta memberantas kemungkaran global yang sudah lama berlangsung tanpa ada kekuatan penyeimbang.

Jika masing-masing Negara Islam bergerak sendiri-sendiri, bahkan terpecah belah. Maka, kekuatan umat Islam hanya kecil yang mudah diombang-ambingkan kekuatan super power, yang tidak akan membiarkan ada poros kekuatan baru di dunia.

Kekuatan Islam di Timur Tengah sebagai tempat lahirnya Islam sudah dipecah belah. Sehingga, satu dengan yang lain lebih mengedepankan ego sektoralnya sendiri-sendiri.

Bahkan perang antar negara Islam karena berebut kepentingan politik dan ekonomi menjadi realitas ironis yang menohok kesadaran umat Islam dunia. Begitu mudahnya mereka dipecah belah, oleh kekuatan besar yang ada di belakangnya. Ini mengorbankan persatuan umat Islam yang mahal harganya.

Maka Islam di Indonesia yang dikenal rahmatan lil-alamin dengan ciri toleran, moderat, dan progresif harus tampil di panggung dunia. Islam harus mampu menjadi kekuatan baru yang mampu mempersatukan umat Islam dunia. dalam rangka memperjuangkan penegakan sendi-sendi kemanusiaan universal.

Islam juga perlu hadir dalam  memberantas ketidakadilan global yang sudah menggurita berabab-abad supaya isu-isu kemanusiaan mendapatkan atensi dunia secara serius.

Dalam konteks ini, maka Ramadan sebagai bulan suci umat Islam harus dimanfaatkan secara optimal untuk menyisingkan lengan baju dan mengibarkan panji kebesaran Islam di tengah hegemoni dunia.

Tentu syarat utamanya adalah sumber daya manusia umat Islam harus menjadi sumber daya terbaik yang mengungguli sumber daya umat lain. Sehingga, mampu meningkatkan kreativitas dan inovasinya dalam lapangan ilmu dan teknologi sebagai pondasi persaingan dunia sekarang dan masa depan.

Sumber daya manusia inilah kekuatan utama dalam membangun peradaban dunia yang moderat, toleran, dan progresif yang menjunjung tinggi nilai-nilai keagamaan dan kemanusiaan universal lintas sektoral.

Kecerdasan sumber daya manusia dalam Islam menggabungkan semua jenis kecerdasan, mulai spiritual, moral, keilmuan, rasional, dan sosial.

Pesan Transformatif

Dalam konteks menghadapi virus corona yang meresahkan masyarakat dunia, bulan suci Ramadan mempunyai banyak pesan transformatif yang menjadi pijakan umat Islam dalam melangkah. Antara lain:

Pertama, umat Islam harus lebih mendekatkan diri kepada Allah dengan banyak melakukan ibadah wajib maupun sunnah. Ibadah wajib meliputi shalat, puasa, zakat, membaca Alquran, sedekah, dan berdzikir kepada Allah. Allah dalam Alquran memberikan jaminan ketenangan bagi orang yang berdzikir kepada Allah.

Berdzikir kepada Allah berarti mengingat bahwa di dunia ini hanya Allah Sang Penggenggam dunia yang menguasai semua hal tanpa terkecuali. Tidak ada sesuatu yang terjadi tanpa kehendak-Nya. Jika orang ingin selamat, maka berjalanlah di rel yang diridlai Allah dan Rasul-Nya.

Kedua, menyadarkan umat Islam bahwa di dunia ini telah banyak kemaksiatan yang terjadi sedangkan umat Islam pasif dan apatis terhadap kemaksiatan tersebut. Jika Allah menurunkan bencana, maka semua orang yang ada di bumi, baik orang baik atau orang jelek, terkena semua.

Allah menurunkan bencana salah satunya karena banyaknya kemaksiatan yang ada di muka bumi. Pelacuran, gay, lesbi, pesta minum-minuman keras, narkoba, dan judi menjadi realitas dunia modern yang tidak dibantah.

Orang alim sekalipun hanya mampu ingkar dalam hati sehingga praktek-praktek yang dilarang agama ini bebas tanpa kendali. Maka sudah saatnya kemaksiatan ini diberantas dengan cara humanis dan persuasif.

Ketiga, urgensi menegakkan keadilan global. Realitas menunjukkan dengan jelas bahwa ketidakadilan global dalam bidang ekonomi, politik, ilmu, teknologi, dan peradaban semakin menggila.

Negara adidaya mencengkramkan dominasinya di tengah percaturan dunia. Negara kuat mengeksploitasi besar-besaran negara lemah dan berkembang secara besar-besaran. Kekuatan teknologi, media, finansial, dan diplomasi global digunakan untuk mencengkramkan superioritas dan dominasinya dalam segala aspek kehidupan.

China dan Amerika sebagai dua kekuatan elit dunia menjadi episentrum penyebaran pandemi corona. Dua Negara ini selalu terlibat dalam kompetisi ketat dan keras dalam bidang persenjataan, teknologi, ekonomi, dan politik global.

China masih perkasa dominasinya dalam bidang ekonomi. Sementara Amerika masih menunjukkan kekuatannya dalam bidang militer. Anggaran kedua Negara ini dalam bidang militer menempati urutan terbesar dunia. Amerika menempati Negara terbesar anggaran militernya yang disusul China.

Ramadan menyadarkan masyarakat dunia bahwa dominasi dan ketidakadilan global harus diakhiri dan diganti dengan keadilan global yang berlandaskan nilai-nilai kemanusiaan universal yang menekankan kasih sayang dan harmoni kepada seluruh umat manusia.

Kebahagiaan hakiki yang menjadi tujuan kehidupan harus dicapai bersama-sama tanpa ada yang dikorbankan. Inilah cita-cita Islam yang menjadi spirit utama Ramadan.

Dr Jamal Ma’mur Asmani MA, Direktur Lembaga Studi Kitab Kuning dan dosen Ipamafa Pati.

Tinggalkan Balasan