Lilyana Natsir suara muria
Lilyana Natsir (foto s: suaramuria/dok PB Djarum)

KUDUS, suaramuria.com – Usai gantung raket, Liliyana Natsir (Butet) tak mau jauh-jauh dari urusan bulu tangkis. Perempuan kelahiran Manado yang menghabiskan 24 tahun berkarier sebagai atlet bulu tangkis itu, kini berada di jajaran tim pencari bakat PB Djarum.

Butet menepati janjinya, mengamati dan menyaring bibit-bibit pebulutangkis calon juara dunia di lima kota Audisi Umum Beasiswa Bulutangkis 2019, yakni Bandung, Purwokerto, Surabaya, Solo Raya, dan Kudus.

Dalam sebuah acara bincang-bincang yang digelar di halaman depan GOR Djarum, Jati, Kudus, Butet mengungkap masa lalunya saat meniti karier bulutangkis di ibukota Jakarta.

“Kak Butet dari Manado ke Jakarta diantar sama Mama. Setelah itu Mama kembali pulang. Meski saya anak bungsu yang biasa dimanja, setelah ditinggal orangtua lalu dipaksa mandiri. Awalnya, rasanya dunia kiamat,” katanya.

Kalau kangen kampung halaman, kenang Butet, ia harus pergi ke wartel (warung telepon) untuk telepon interlokal ke Manado. “Dulu belum punya handphone. Memangnya zaman sekarang yang sudah bisa video call,” ujar Butet, yang disambut tawa para penggemarnya.

Di hadapan ratusan anak dan orangtua yang berdesakan di depan panggung, Butet menyebut dirinya sebagai tipe manusia yang “tidak mau kalah”. “Tentunya dalam arti positif. Jika saya kalah hari ini, besok harus menang. Baru saya puas,” ujarnya.

BACA JUGA :Hadapi Peparprov 2022, Atlet Difabel Pati Berlatih di Tengah Minimnya Peralatan

Butet, yang kini juga bertugas sebagai Technical Adviser PB Djarum, menemukan banyak hal baru saat memikul tanggungjawab baru di Audisi Umum. Dari balik meja Tim Pencari Bakat, ia harus jeli menilai, memantau, lalu mencari, anak-anak yang bertanding di lapangan.

“Rasanya seperti kilas balik ke awal karier saya di Manado dulu, tapi bedanya tanggungjawab baru sebagai pencari bakat,” katanya.

Butet mengakhiri kariernya dengan sederet gelar juara bergengsi. Dia menyabet medali emas bulu tangkis ganda campuran Olimpiade Rio de Janeiro 2016, bersama Tantowi Ahmad.

Kepada anak-anak peserta audisi beasiswa bulu tangkis PB Djarum yang datang ke Kudus, Butet berpesan agar jangan kecewa jika belum berhasil menembus ketatnya persaingan audisi.

“Ketika sudah berhasil masuk PB Djarum, disiplin menjadi hal yang utama. Kalian harus fokus latihan dengan giat. Jika pelatih kasih program, jangan tawar. Malah sebaliknya, tambah latihan jika dirasa kurang. Dan juga harus atur dengan baik istirahat dan makan,” pesannya.

Audisi Umum Beasiswa Bulutangkis 2019 dapat diikuti oleh atlet putra dan putri berkewarganegaraan Indonesia dengan kategori U-11 (berusia 6-10), U-13 (untuk peserta dengan umur 11-12 tahun).  (SRM)

Tinggalkan Balasan