suara muria pati apd
Seorang pengusaha konfeksi menjahit baju hazmat yang merupakan salah satu alat pelindung diri (APD) tim medis dalam menangani pasien. (foto : suaramuria.com)

PATI, suaramuria.com – Pengusaha konfeksi di Kabupaten Pati mulai memilih beralih untuk membuat alat pelindung diri (APD) berupa baju hazmat. Namun sulitnya mencari bahan baku menjadi kendala tersendiri.

Sri Hastuti pengusaha konfeksi asal Desa Gunungsari, Kecamatan Batangan, Kabupaten Pati mulai menggarap baju hazmat sejak bulan lalu. Setiap harinya pesanan pun banyak berdatangan mulai dari Kabupaten Pati sendiri hingga ke luar daerah.

Meskipun permintaan cukup banyak namun dia mengaku tetap menjualnya dengan harga yang terjangkau yakni kisaran Rp 70 ribu. Hal itu dilakukannya melihat betapa pentingnya alat pelindung diri di masa sekarang ini.

“Pesanan banyak dari instansi di Kabupaten Pati, Blora dan Rembang. Sejauh ini paling banyak dari instansi kesehatan memang,” terang penyandang disabilitas daksa tersebut.

BACA JUGA : Relawan Marwan Bagikan Puluhan Ribuan Masker dan Hand Sanitizer

Setiap harinya, dia mampu membuat sedikitnya 100 APD. Dulu awalnya dia hanya memiliki dua orang yang membantu dalam pembuatan APD tersebut. Namun dengan banyaknya pesanan sekarang dia telah memiliki tujuh orang yang ikut membantu.

“Memang ditambah yang membantu mengerjakan. Karena tidak pernah sepi dari order,”imbuhnya.

Baju Hazmat

Namun diakuinya pihaknya cukup kesulitan dalam mencari bahan baku pembuatan baju hazmat tersebut. Tidak jarang dia harus mendatangkan langsung dari luar Pati. Bahkan seringkali harganya lebih mahal daripada biasanya.

“Di Pati itu sudah habis jadi harus ambil dari luar, harganya tentu lebih mahal tapi tidak apa-apa yang penting sesuai standar. Ini kan untuk melindungi diri, jadi bahannya harus 75 Gsm serta wajib anti air, tidak bisa sembarangan” jelasnya.

Langkahnya dalam membuat APD baju hazmat itu sendiri dimulai saat dia diminta salah satu klinik untuk membuatkan. Dia dipercaya lantaran sebelumnya dia memang sudah sering membuat pesanan berupa seragam sekolah dan pakaian jadi.

“Dari permintaan teman yang bekerja di klinik itu. Dari permintaan pembuatan APD itu akhirnya mencoba mempelajari polanya dan mencobanya. Alhamdulillah mereka puas akan hasilnya, semenjak itu pesanan terus mengalir,” tuturnya. (SRM)

Tinggalkan Balasan