man 1 kudus
Beras analog dari buah lamun yang hasil inovasi pelajar MAN 1 Kudus. (foto : suara muria(

KUDUS, suaramuria.com – DI tangan tiga pelajar Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 1 Kudus, buah lamun disulap menjadi beras alternatif pengganti padi. Beras dari buah tanaman yang tumbuh di laut itu diklaim ramah bagi penderita penyakit gula darah (diabetes).

Temuan oleh Indra Faizatun Nisa, Novilla Dwi Candra, dan Alfi Fatimatuz Zahro siswa kelas XI MIPA MAN I Kudus ini diganjar penghargaan di Thailand.

Didampingi dua rekannya, Novilla Dwi Candra mengatakan pembuatan beras analog (beras nonpadi) tidak sulit. Mereka menggunakan bahan berupa tepung mocaf, jagung, dan buah lamun yang semuanya dibentuk dalam bentuk bubuk.

BACA JUGA : Pati Jadikan Durian Potensi Unggulan

Buah lamun diperoleh dari nelayan di Kabupaten Jepara. Buah itu kemudian dibuat tepung sebelum dimanfaatkan sebagai bahan beras analog. “Untuk menghasilkan 2 kilogram beras analog, butuh waktu sekitar 30 menit,” katanya.

Dari bubuk kemudian dicetak menjadi butiran layaknya beras, di Purwodadi. Novilla mengtakan, dalam tahap uji coba dibuat empat jenis komposisi bahan yang berbeda guna mengetahui kandungan antioksidan yang tertinggi.

Dari uji coba itu diketahui komposisi 7:3:1 untuk tepung buah lamun, mocaf dan jagung mendapatkan antioksidan tertinggi hingga 80,52 persen. Dengan kandungan ini, beras buah lamun cocok dikonsumsi oleh para penderita diabetes.

“Pengujian kandungan beras analog buah lamun ini kami lakukan di laboratorium Undip Semarang,” katanya.

suara muria beras non padi
Indra Faizatun Nisa, Novilla Dwi Candra, dan Alfi Fatimatuz Zahro siswa kelas XI MIPA MAN 1 Kudus menunjukkan beras Arras yang dibuat dari buah lamun. (foto : suaramuria.com)

Beras analog yang diberi label merek “Arass” tersebut telah dijual ke publik. “Untuk ukuran 800 gram dijual dengan harga Rp 25.000, sedangkan kemasan 250 gram dijual dengan harga Rp 7.000,” katanya.

Meski bahan dasarnya bukan padi, proses memasak beras analog buah lamun tidak sulir. “Proses masaknya tidak jauh beda dengan beras yang berasal dari padi. Namun warnanya memang tidak seputih beras dari padi. Beras buah lamun ini juga tidak perlu dicuci lagi saat akan dimasak,” katanya.

Medali Perunggu

Atas temuan beras analog dari bahan-bahan di alam tersebut, ketiga pelajar MAN 1 Kudus tersebut meraih medali perunggu pada kompetisi Intellectual Property Invention, Innovation and Technology Exposition (IPITEX) 2020 di Bangkok, Thailand.

Kepala MAN 1 Kudus Suhamto mengatakan, lomba inovasi yang diselenggarakan International Invention Innovation Competition in Canada tersebut, berlangsung tanggal 2-6 Februari 2019. Ketiga pelajar didampingi guru pembimbing Nurul Khotimah.

“Prestasi ini tentu menggembirakan karena anak didik kami harus bersaing dengan 514 peserta dari 21 negara di dunia,” katanya.

Suhamto mengatakan, temuan itu akan didaftarkan hak patennya. “Jika memungkinkan juga akan dikembangkan lagi agar lebih bermanaat bagi masyakat luas, terutama penderita diabetes serta bisa menangkal radikal bebas,” katanya. (SRM)

 

Tinggalkan Balasan