pasar kopi muria
Wakil Ketua Komisi XI Fathan (kanan) saat meninjau kebun kopi yang dikelola Komunitas Kopi Muria di Desa Colo, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus, Senin (10/8). (foto: suaramuria.com)

KUDUS, suaramuria.com – Pasar kopi muria lesu akibat dampak pandemi Covid-19. Hal itu disampaikan Ketua Komunitas Kopi Muria Pujiharto saat menerima kunjungan Wakil Ketua Komisi XI DPR RI Fathan, Senin (10/8).

Pujiharto menuturkan, para produsen kopi Muria di Desa Colo, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus, kehilangan pasar hingga 80 persen akibat dampak pandemi Covid-19. Akibatnya sebagian petani memilih menjual biji kopi langsung ke tengkulak.

“Padahal jika diolah menjadi kopi bubuk dengan kualitas yang terjaga, nilai ekonomi kopi Muria lebih meningkat. Kami di komunitas ingin menampung kopi petani sebanyak-banyaknya, namun terkendala permodalan dan peralatan,” kata Pujiharto.

Harga biji kopi saat ini berada di kisaran Rp 21 ribu – Rp 22 ribu per kilogram. Harganya bisa melonjak hingga hingga Rp 40 ribu – Rp 45 ribu per 100 gram setelah diolah menjadi kopi bubuk kemasan.

Potensi kopi Muria cukup besar. Luas lahan yang dikelola 440 petani di Desa Colo dan sekitarnya mencapai 240 hektare. “Kami kini fokus pada pasca panen untuk meningkatkan nilai ekonomi kopi dan menambah penghasilan petani,” katanya.

BACA JUGA : Makam Sunan Muria Dibuka Lagi, Ini Syaratnya

Namun karena segala keterbatasan itu, sebagian petani memilih langsug menjual ke tengkulak dari Temanggung dan sejumlah daerah di Jawa Timur. “Petani yang sudah memiliki kesadaran mengolah kopi bubuk kemasan yang tergabung dalam komunitas kami sebanyak sepuluh orang,” katanya

Menanggapi itu, Fathan akan berupaya mendorong perbankan untuk aktif membantu para petani di wilayah Muria. Pemerintah telah mengucurkan bantuan permodalan melalui program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) mencapai Rp 30 triliun.

Akses Perbankan

Anggota DPR RI Fraksi PKB ini berharap stimulan permodalan itu juga dinikmati para pelaku UMKM, terutama petani dan produsen Kopi Muria di Colo dan sekitarnya. Ia juga akan mengupayakan bantuan alat pengolah kopi untuk memacu produksi kopi anggota Komunitas Kopi Muria tersebut.

“Saya melihat potensi kopi Muria sangat luar biasa. Pemerintah juga telah mengucurkan stimulan yang cukup besar. Tinggal bagaimana nantinya stimulan program pemulihan ekonomi nasional ini sampai pada petani dan produsen kopi di Muria ini,” katanya.

Fathan mengatakan telah mengantono persoalan-persoalan yang dihadapi petani kopi di Muria seperti panen sebelum waktunya dan harga jatuh di saat panen raya. “Upaya komunitas untuk membeli kopi petani untuk diolah sudah baik. Tinggal masalah permodalan. Nanti akan kami koordinasikan dengan perbankan. Termasuk bantuan seperti peralatan,” katanya. (SRM)

Tinggalkan Balasan