parade sewu kupat desa colo
Tradisi parade Sewu Kupat Kanjeng Sunan Muria yang digelar warga Desa Colo, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus, tahun lalu. (foto : suaramuria.com)

KUDUS, suaramuria.com – Warga Desa Colo, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus tahun ini tak menggelar tradisi parade sewu kupat. Sebagai ganti parade sewu kupat Desa Colo, warga menggelar bancakan kupat secara sederhana.

Kepala Desa Colo Mc Destari Andryasmoro mengatakan, parade sewu kupat merupakan agenda rutin tahunan Pemkab Kudus bersama Pemdes Colo. Tradisi parade sewu kupat Desa Colo yang biasanya dihadiri ribuan pengunjung itu, mulai digelar meriah sejak 2007.

“Tahun ini karena dampak Covid-19, tradisi parade Sewu Kupat ditiadakan,” kata Aan, panggilan akrab Destari Adryasmoro, Selasa (26/5).

BACA JUGA : Cegah Korona, Pemkab Kudus Tutup Objek Wisata

Sebagai gantinya warga akan menggelar bancakan di setiap dukuh. Bancakan kupat itu sebelumnya juga digelar di balai desa. Namun karena dikhawatirkan akan dihadiri banyak orang, kegiatan itu dipecah di setiap dukuh.

“Di Colo ada empat dukuh yakni Colo, Panggang, Pandak, dan Kumbang. Bancakan kupat nantinya digelar di masing-masing dukuh untuk mengurangi kerumunan warga yang hadir,” katanya.

Warga Luar Desa

Selain menjalankan protokol kesehatan yang ketat, Aan juga meminta semua kepala dukuh untuk memantau setiap warga yang hadir. Ia meminta tidak ada warga luar desa yang ikut dalam bancakan kupat tersebut.

“Sebelum Lebaran juga kami sudah meminta warga tidak menerima tamu warga dari luar desa. Ini semata untuk melindungi warga dari penularan Covid-19,” katanya.

Kegiatan bancakan kupat di setiap dukuh itu akan digelar, Minggu (31/5). Selain sewu kupat, tradisi syawalan lainnya di Kudus seperti tradisi Bulusan di Desa Hadipolo, Kecamatan Jekulo, Kabupaten Kudus juga ditiadakan.

Selain itu, sejumlah perayaan Syawalan yang juga ditiadakan tahun ini yakni tradisi Lomban di Desa Kesambi, Kecamatan Mejobo, tradisi Syawalan di Sendang Jodo, Bae dan di Sendang Dewot, Desa Wonosoco Kecamatan Undaan.

Kabid Pariwisata pada Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Kudus, Mutrika kepada wartawan mengatakan, keputusan peniadaan perayaan Syawalan itu sudah diputuskan jauh-jauh hari.

“Perayaan Syawalan di Taman Krida Wisata dan Museum Kretek yang biasanya mengundang musisi lokal juga ditiadakan. Objek wisata itu bahkan sudah tutup sejak pandemi Covid-19 mewabah di Kudus,” katanya. (SRM)

Tinggalkan Balasan