- Advertisement -spot_img
32 C
Kudus
Minggu, 18 April 2021
BerandaKudusPandemi, Tradisi Ampyang Maulid Digelar Sederhana

Pandemi, Tradisi Ampyang Maulid Digelar Sederhana

- Advertisement -spot_img

KUDUS, suaramuria.com – Warga Desa Loram Kulon, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus menggelar tradisi Ampyang Maulid dengan sederhana. Tradisi tahunan bertepatan dengan peringatan maulid atau hari lahir Nabi Muhammad SAW, Kamis (29/10) sore.

Berbeda dari tahun sebelumnya yang digelar meriah, tahun ini hanya ada satu gunungan ampyang yang dikirab. Rute kirab pun diubah untuk mengurangi kerumunan warga.

Gunungan kirab diarak dari Balai Desa Loram Kulon menuju Masjid Masjid Attaqwa sejauh sekitar 500 meter. Sesampainya di Masjid Wali Loram Kulon, gunungan tersebut diletakan di tengah – tengah warga yang hadir pada tradisi tersebut.

BACA JUGA : Serunya Mengisi Waktu dengan Permainan Tradisional

Dengan penerapan protokol kesehatan yang ketat seperti wajib mengenakan masker dan jaga jarak, warga berdoa secara kusyuk. Setelah doa-doa dipanjatkan, gunungan berisi nasi kepel dan ampyang kemudian dibagikan kepada warga yang hadir.

Kepala Desa Loram Kulon Muhammad Safii mengatakan, tradisi Ampyang Maulid tahun ini digelar secara sederhana karena kondisi pandemi Covid-19. Biasanya belasan gunungan dikirab warga.

“Mengingat tahun ini ada pandemi Covid-19, maka acara ini kami sederhanakan, tanpa mengurangi kekhusyukan tradisi tahunan ini,” katanya.

Safii mengatakan, Ampyang Maulid digelar untuk memperingati hari besar kelahiran Nabi Muhammad SAW dan melestarikan budaya di Desa Loram Kulon.

Pengurus Masjid Wali Loram Kulon Afroh Amanuddin mengatakan, Ampyang Maulid tetap lestari dan telah dilaksanakan secara rutin sejak puluhan tahun lalu.

Nasi kepel telah lekat dengan tradisi masyarakat yang mempunyai hajat khusus. Warga membagikan nasi kempel dengan jumlah tujuh. Tujuh diambil filsafat jawa, yakni pitutur, pinulung maksudnya semoga memberikan sedekah di masjid, dengan harapan mendapat pertolongan, petunjuk, dan pitutur yang baik.

“Dulu tradisi ini dikenal dengan ancakan. Nama tradisi berubah menjadi Ampyang Maulid sekitar 20-an tahun lalu. Warga mengias gunungan yang digotong pada tandu oleh warga keliling kampung,” katanya. (SRM)

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img

Stay Connected

1,011PengikutMengikuti
2,458PengikutMengikuti
7,164PelangganBerlangganan

Must Read

- Advertisement -spot_img

Related News

- Advertisement -spot_img

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: