monopoli matematika
Permainan edukatif monopoli matematika yang dibuat oleh Mahasiswa Universitas Muria Kudus (UMK). (foto : suaramuria.com)

KUDUS, suaramuria.com – Di tangan mahasiswa Universitas Muria Kudus (UMK) ini, rumitnya rumus matematika bisa berubah menjadi permainan monopoli yang mengasyikkan. Monopoli matematika (politika) ini dibuat agar anak-anak tidak takut dengan pelajaran matematika.

Uniknya selain berlajar materi matematika, monopoli matematika ini juga bisa digunakan untuk mengenalkan budaya Kabupaten Kudus. Pasalnya, gambar pada perangkat permainan edukasi ini berisi tentang budaya di Kabupaten Kudus.

Metode pengajaran kreatif monopoli matematik aini dibuat empat mahasiswa UMK Vany Diah Puspita Sari, Miqdam Maulana, Shinta Herawati, dan Arung Nugroso Sumarno Putra. “Permainan yang kami buat sebagai tugas kuliah ini materinya bisa disesuaikan dengan mata pelajarannya,” kata Vany.

BACA JUGA : 50 Mahasiswa UMK Terima Beasiswa Bank Indonesia

Permainan ini bisa digunakan untuk anak usia sekolah dasar (SD), sekolah menengah pertama (SMP), maupun siswa sekolah menengah atas (SMA). “Cara bermain sama layaknya main monopoli, tapi materinya bisa diubah,” katanya.

Karena bisa diubah, maka  permainan tersebut bisa lebih fleksibel digunakan, apalagi materinya dibuat sesuai keinginan. Bahkan sudah ada SD yang memesan Monopoli Matematika sebanyak tujuh buah untuk pembelajaran di sekolah.

SD tersebut tertarik membeli karena materi bisa digunakan untuk membantu proses belajar mengajar matematika, apalagi dengan cara bermain. “Menggunakan metode permainan ada keasyikan tersendiri bagi peserta didik, sehingga akan tertarik dan mudah untuk menerima, mengamati dan memahami pelajaran yang dipelajari,” terangnya.

Tiga Jenis Kartu

Permainan monopoli matematika ini dibuat dari bahan triplek dan dibentuk menjadi kotak. Bagian atas terdapat gambar-gambar dan juga kartu. Ada tiga jenis kartu yang disiapkan, kartu dengan pertanyaan mudah, sedang dan berat.

Penentuan pertanyaan tersebut tergantung saat siswa melempar dua dadu yang disiapkan dalam permainan. Setelah dadu tersebut berhenti dan menunjukkan nilainya maka peserta didik memulai permainan dengan diawali dari start.

Setiap pemberhentian, peserta didik melihat level, hukuman, atau bebas berhenti  yang terdapat dalam monopoli tersebut. Kemudian peserta didik mengambil soal yang sesuai dengan level yang didapatkan, atau mengambil hukuman jika pada nomor tersebut yang mendapatkan hukuman.

Jika peserta didik menjawab dengan benar, pada level 1 akan mendapatkan point 5, jika di level 2 akan mendapatkan point 10, dan jika menjawab benar di level 3 akan mendapatkan point 15. Jika peserta didik menjawab salah, maka point dikurangi 1.  “Kami buat semenarik mungkin, biar lebih enjoy, jadi belajarnya mengasikkan,” katanya.

Dari permainan tersebut, banyak manfaat yang didapatkan, baik guru maupun siswa. Guru bisa mempermudah dalam penyampaian materi dan target pembelajaran bisa maksimal. Karena dengan permainan pembelajaran akan mduah dimengerti.

Sementara untuk siswa, bisa untuk meningkatkan motivasi dan prestsi belahar peserta didik, meningkatkan kemampuan peserta didik dalam menyelesaikan masalah. Lalu meningkatkan kemandirian peserta didik dan menumbuhkan semangat dalam pembelajaran yang diebrikan oleh guru.

“Kami membuat permainan edukatif ini karena memang melihat kondisi siswa, masih banyak yang kurang suka matematika karena dirasa sulit,” imbuhnya.

Dosen Prodi Pendidikan Matematika Savitri Wanabuliandari mengatakan, jika ide membuat permainan matematika tersebut cuku menarik. Karena bisa membuat siswa lebih nyaman dalam belajar matematika.

Pihaknya juga melihat proses pembuatannya sudah cukup bagus, apalagi sejak awal memang terus melakukan korodiansi untuk penyempurnaannya. Sehingga saat ini sudah ada SD yang berminat karena dianggap cukup menarik dalam membantu pembelajaran matematika. (SRM)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here