lailatul qadar
Moh In'ami M Ag

Lailatul qadar, malam yang memiliki kemuliaan dan apresiasi, maka setiap amal saleh dan qiyam Ramadan lebih utama dari seribu bulan, yaitu lebih dari 83 tahun.

***

BUAH dari puasa Ramadan adalah takwa, yang akan mengantarkan setiap pelakunya kepada surga. Demikianlah janji Allah Ta’ala, “Sesungguhnya bagi orang-orang yang bertakwa di sisi Tuhan mereka adalah surga Na’im.” (QS. ). Suatu perlakuan khusus bagi orang-orang yang di hatinya terdapat keimanan dan ketakwaan.

Kita sedang berada dan menikmati hari-hari agung dari bulan Ramadan; hari-hari penuh maaf dan ampunan, yang di dalamnya terdapat malam yang lebih baik daripada seribu bulan.

Allah mengagungkannya dalam ayat-ayat-Nya, “Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Alqur’an) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan.” (QS. Alqadr: 1-3).

Lailatul qadar, malam yang memiliki kemuliaan dan apresiasi, maka setiap amal saleh dan qiyam Ramadan lebih utama dari seribu bulan, yaitu lebih dari 83 tahun. Allah Ta’ala memilih di malam itu untuk menurunkan Alqur’an Alkarim.

“Sesungguhnya Kami menurunkannya (Alqur’an) pada malam yang diberkahi….”. Allah Yang Maha kuasa menjadikan keutamaan malam itu begitu besar, sehingga ibadah dan amal saleh apapun pada waktu tersebut pahalanya dilipatgandakan.

BACA JUGA : Puasa, Wabah, dan Semangat Moderasi Beragama

Menurut Syekh Hasan Basri, pada malam tersebut dapat membedakan antara setiap urusan. Di dalamnya Allah memutuskan penciptaan dan ajal, rezeki dan amal hingga tahun depan.

Ibnu Abbas mengatakan, bahwa pada malam itu Allah menetapkan apa yang bakal terjadi dalam setahun, baik berkenaan dengan kematian dan kehidupan, rezeki dan hujan.

Malam yang Diberkahi

Lailatul qadar, adalah malam yang diberkahi, yang waktunya memanjang dari adzan Magrib hingga terbitnya fajar.

“Barangsiapa yang melakukan qiyam pada malam tersebut dengan penuh keimanan dan berharap pahala dari Allah, maka akan diampuni dosanya yang telah lalu.” (Hadist).

Nabi saw menghidupkan malam seribu bulan itu dengan munajat, doa, dan ketundukan penuh harap kepada Allah Rabb semesta. Hingga Aisyah bertanya tentang doa yang dibaca saat itu, “Wahai Rasulullah, jika aku mendapati Lailatul qadar, apa yang aku baca?”

Beliau bersabda, “Hendaknya kamu baca Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘anni.” Doa ini adalah yang paling utama yang dibaca manusia pada malam yang diberkahi ini.

Lantas, bagaimana kita memanfaatkan malam yang diberkahi ini? Bagi kaum Muslim, malam itu adalah kesempatan untuk bersungguh-sungguh dalam menggapai keutamaannya, mencapai pahalanya.

Caranya dengan memperbanyak amal saleh aga melekat hingga akhir Ramadan. Maka manusia berjuang dengan sekuat tenaga, merasa bahwa Allah akan memberi kebaikan. Lalu serius beribadah, ber-taqarrub kepada-Nya dengan dzikir, memuji-Nya dengan syukur, menggiatkan sedekah, membaca Alqur’an, menjaga agar senantiasa shalat berjama’ah.

Barangsiapa yang menunaikan ibadah shalat Tarawih secara sempurna bersama imam, maka dicatat pahala baginya qiyam lail.

Dan lebih banyak menemukan keutamaannya bahwa seseorang bangun sebelum fajar lalu menghadap Allah Ta’ala berdiri, ruku’ dan sujud, serta tunduk kepada-Nya, maka ia mengumpulkan dua waktu utama; waktu sahur dan Lailatul qadar.

Saat itulah momentum yang tepat untuk berdoa, sebagaimana Allah Ta’ala perintahkan pada kita untuk itu. Dia berkenan untuk mengabulkannya. “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu.” (QS. Ghafir: 60).

Penulis : Moh In’ami M.Ag, staf pegajar di IAIN Kudus

 

Tinggalkan Balasan