suluk maleman
Anis Sholeh Baasyin, pengampu Suluk Maleman saat memberikan pandangannya

PATI, suaramuria.com – Gelaran ngaji budaya Suluk Maleman kembali mengangkat isu yang menarik. Kegiatan secara daring itu kembali mengajak masyarakat untuk belajar memaknai kembali kemerdekaan.

Munculnya perilaku korup sendiri disentil sebagai wujud dari ketidakmerdekaan.

Tema tersebut tentu menjadi menarik lantaran saat ini tengah mendekati hari kemerdekaan bangsa Indonesia. Dalam diskusi tersebut, turut disentil alangkah baiknya jika makna kemerdekaan dapat diresapi oleh semua pihak.

Anis Sholeh Baasyin menyebut, salah satu wujud kemerdekaan harusnya diwujudkan dengan merdeka dari nafsu dan syahwat. Kemerdekaan tertinggi harusnya tidak terikat pada apapun terkecuali pada sesuatu kecuali pada Tuhan.

BACA JUGA : Optimisme Membuka Peluang Baru di Tengah Pandemi

Budi Maryono, budayawan yang juga menjadi narasumber menyebut dengan konsep merdeka seperti itu, tentunya masyarakat tak akan memiliki ketergantungan maupun menghamba selain pada Tuhan.

“Mereka akan benar-benar merdeka. Tak akan melakukan korupsi atau berbuat sewenang-wenang. Mereka tidak akan melakukan apapun yang melanggar kemerdekaan orang lain maupun melakukan tindakan terlarang untuk memenuhi nafsunya,”terangnya.

Sikap korup sendiri menjadi wujud ketakutan masyarakat jika nantinya tidak cukup hartanya. Begitu pula upaya curang pedagang dan bentuk ketidak adilan lainnya. Hal itu tentunya menunjukkan betapa orang tersebut tidak merdeka pada dirinya sendiri.

“Mereka lupa bahwa Tuhan tentu mencukupi rejeki seluruh umatnya. Mereka menghamba pada sesuatu selain Tuhan hingga membuat mereka tak mampu merdeka dengan dirinya sendiri,”tambahnya.

Manusia sendiri bisa terperosok lantaran tidak mengerti dirinya sendiri. Begitu pula dalam lingkup berbangsa juga bisa hancur bilamana tidak tahu jati dirinya.

“Seperti dilihat katanya demokrasi kekuasaan tertinggi pada rakyat. Tapi sekarang ini wakil rakyat justru merasa lebih berkuasa daripada yang memberi kuasa itu sendiri,”terang Dr Ilyas menambahkan.

Prof Dr Sayatri turut menyebut jika seseorang yang berbuat seenaknya justru menjadi perwujudan tidak merdeka. Karena manusia memiliki peranan masing-masing utnuk menata hubungan antar manusia. Begitu pula dengan ajaran diciptakannya manusia berbangsa-bangsa dan bersuku-suku.

“Maka dari itu di momen kemerdekaan ini kita patut bersyukur dan berbangga dengan keberagaman yang ada di Indonesia. Ratusan suku yang bisa bersepakat bersama tentu menjadi sesuatu yang begitu luar biasa. Keberagaman yang dimanajemen dengan baik tentu akan membuat bangsa ini menjadi bangsa yang besar,”terangnya.

Meski diskusi para narasumber itu digelar secara daring, di rumah saja, namun tetap berjalan dengan cukup hangat. Ribuan netizen terlihat cukup aktif mengikuti jalannya ngaji streaming di beberapa kanal media sosial tersebut.(SRM)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here