suspect covid-19
MEMBAHAS COVID-19: DPRD mengundang Dinkes, rumah sakit, dan Puskesmas untuk membahas penanganan Covid-19 di Ruang Paripurna Gedung Dewan, Selasa (28/4). (foto: suaramuria.com)

PATI, suaramuria.com – Dinas Kesehatan Pati belum menerima laporan kasus warga Pati suspect Covid-19 dan meninggal di rumah orang tuanya di Donorejo, Jepara. Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Pati dokter Edi Siswanto mengatakan, pihaknya tengah melacak kontak perempuan warga Gunungwungkal tersebut.

“Laporan (dari Jepara) ke kami belum ada kepastian apakah positif atau tidak. Hari ini (kemarin-red) kami lakukan pemeriksaan,” ujarnya seusai rapat kerja dengan DPRD Pati di Gedung Dewan, Selasa (28/4).

Lebih lanjut dia menjelaskan, pihaknya telah mengecek 15 orang. Namun, diperkecil menjadi tujuh orang. Mereka merupakan orang-orang yang pernah satu ruangan dengan almarhumah.

BACA JUGA: Pasien Positif Covid-19 di Pati Kembali Bertambah

Berdasar informasi yang dihimpun, perempuan 38 tahun tersebut meninggal dunia pada Minggu (26/4) malam. Siang sebelumnya, sempat berobat ke RS Rehatta Kelet, Keling, Jepara karena mengalami gejala sesak napas.

Pihak Rehatta berencana merujuk sang pasien ke RSUD RAA Soewondo Pati agar dilakukan perawatan intensif di ruang isolasi, namun ditolak. Pihak keluarga membawa perempuan yang baru tiba dari Jakarta pada 24 April itu ke kediaman orang tuanya di daerah Donorejo, Jepara.

Edi mengemukakan, kendati belum dipastikan terpapar atau masih terduga (suspect Covid-19), penelusuran kontak tetap dilakukan. Pihaknya juga meminta tujuh warga yang pernah satu ruangan dengan almarhum untuk melakukan isolasi. Kondisi mereka akan selalu dipantau.

Sementara, dalam rapat tersebut, DPRD mengundang Dinkes, rumah sakit, dan puskesmas di pati. Rapat yang berlangsung di Ruang Paripurna DPRD Pati membahas kesiapan tenaga kesehatan dalam penanganan Covid-19.

“DPRD memberi perhatian kepada kami, tim medis yang menjadi garda terdepan dalam menangani pasien terdampak Covid-19. Dewan ingin memastikan petugas kami aman dalam melayani masyarakat,” paparnya.

Inventarisasi APD

Pihaknya pun segera menginventarisasi, menghitung berapa jumlah alat pelindung diri (APD) yang dibutuhkan tim medis di Puskesmas dan RSUD Soewondo maupun RSUD Kayen. Jumlah kebutuhan itu akan dipenuhi secara sharing.

“RSUD itu BLUD dan layanan umum daerah maka dapat membeli sendiri. Berapa kebutuhan mereka dan jumlah yang dapat dicukupi, serta berapa yang akan kami bantu, semua dihitung,” jelasnya.

Edi mengakui, pengadaan APD bagi tenaga medis Puskesmas dan rumah sakit sejauh ini belum dilakukan secara sistematis. Itu lantaran kepanikan, bukan hanya masyarakat tetapi juga petugas.

“Selama ini kalau ada permintaan dari Puskesmas kami kasih, tidak ada perencanaan karena luar biasa mendadaknya,” tandas dia.(SRM)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here