suara muria Komisi B Kecewa Pengelolaan Pariwisata Minim Terobosan
Sejumlah kendaraan peziarah parkir di luar gedung parkir yang dibangun Pemkab Kudus di Desa Colo, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus. (foto : suaramuria.com)

KUDUS, suaramuria.com – Komisi B DPRD Kudus belum melihat adanya terobosan yang signifikan pada pengelolaan pariwisata di Kabupaten Kudus. Padahal target setoran retribusi Pariwisata tahun ini mengalami kenaikan cukup tinggi.

Ketua Komisi B DPRD Kudus Ali Mukhlisin mengatakan, Pemkab Kudus telah mengalokasikan anggaran cukup besar untuk pengembangan pariwisata beberapa tahun terakhir.

BACA JUGA : Dari Timbunan Sampah Menjadi Taman Cantik di Tepi Kali Gelis

Dengan alokasi anggaran yang telah dikucurkan tersebut, wajar jika kemudian target pendapatan dinaikkan. “Namun dua tahun terakhir belum terlihat adanya terobosan yang besar dalam pengelolaan pariwisata. Masih begitu-begitu saja,” kata Mukhlisin.

Dia menambahkan, objek wisata pelat merah justu jauh tertinggal dengan objek wisata baru yang dikelola oleh pihak swasta. “Lihat saja objek wisata milik swasta di jalan arah menuju Colo. Perkembangannya cukup pesat,” katanya.

Mukhlisin mengatakan, perombakan SOTK di Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) pekan lalu diharapkan membawa perubahan positif dalam pengelolaan objek wisata milik Pemkab Kudus.

Kenaikan Target Retribusi

Terpisah, Kabid Pariwisata pada Disbudpar Mutrikah membenarkan adanya kenaikan target pendapatan retribusi dari Pariwasata dari Rp 3,8 miliar (2019) menjadi Rp 4,3 miliar (2020). Menurut dia, target kenaikan ini cukup berat namun pihaknya optimistis dapat mencapainya.

Realisasi pendapatan retribusi dari sektor pariwisata tahun 2019 mencapai Rp 3,536 miliar. Pendapatan terbesar didapat dari retribusi objek wisata Colo yang mencapai Rp 2,310 miliar. Pendapatan itu berasal dari tiket masuk pengunjung Colo, taman ria, graha muria, villla, pondok, PKL, dan Parkir Colo.

“Potensi terbesar pengelolaan wisata di Kudus memang ada di Colo. Untuk menggenjot pendapatan tersebut kami telah mengusulkan perluasan parkir kendaraan wisata. Pemdes sudah menyiapkan lahannya, namun usulan anggaran belum disetujui,” kata Mutrikah.

Menurut Mutrikah, butuh penataan ulang kawasan wisata Colo termasuk parkir kendaraan peziarah. Saat ini pun pedagang masih banyak yang berjualan di pinggir jalan, Mereka enggan menempati kios di bangunan baru yang telah dibangun oleh Pemkab.

“Harus ada redesain termasuk membangun areal parkir baru dan menata jalur wisatawan agar menguntungkan para pedagang,” katanya.

Selain pendapatan riil ke kas daerah, penataan wisata di Colo juga membawa efek domino bagi pertumbuhan sektor pariwsata seperti menjamurnya kedai dan kafe di sepanjang jalan menuju Muria tersebut.

“Meski tidak memberi pemasukan secara langsung ke daerah dari retribusi, namun kami gembira karena kegiatan ekonomi warga bermunculan,” katanya. (SRM)

Tinggalkan Balasan