Arab Pegon di Masa Kolonial
Sejumlah remaja Masjid Wali Kauman Prawoto saat melakukan digitalisasi catatan nikah yang menggunakan Arab Pegon

PATI, suaramuria.com – Hal unik ditemukan dari jejak Arab Pegon di Masa Kolonial. Bila selama ini Arab Pegon identik dengan tradisi pesantren untuk mengkaji kitab-kitab. Namun pada massa kolonial, tulisan Arab berbahasa Jawa itu rupanya memiliki peranan yang begitu besar.

Hal itu secara tidak sengaja terkuak oleh para remaja masjid Wali Kauman Prawoto. Saat melakukan digitalisasi dokumen di Kantor Urusan Agama (KUA) Sukolilo II mereka mendapati ada cukup banyak catatan nikah yang ditulis dengan Arab Pegon.

Catatan nikah itu bertuliskan tahun 1936 atau sebelum masa kemerdekaan. Bahkan diperkirakan ada yang lebih tua lagi.

BACA JUGA : Masjid Prawoto, Tempat Musyawarah Para Wali

Ketertarikan pada dokumen lawas yang mulai dimakan zaman pun muncul. Arab Pegon rupanya tak sekadar tumbuh di kalangan pesantren saja. Catatan nikah yang notabene menjadi dokumen resmi negara juga menggunakannya.

Bukannya aksara Jawa maupun latin atau berbahasa Belanda.

Temuan itu kemudian mereka bawa dalam forum diskusi resmi dengan menghadirkan peneliti lainnya. Benar saja di era sebelum banyaknya sekolah resmi yang dapat dienyam masyarakat, para ulama sudah berhasil menjadikan Arab Pegon dikenal secara luas.

Strategi Santri

Ali Burhan, seorang anggota Lesbumi Jepara justru melihat temuan itu sebagai salah satu strategi kaum santri saat melawan penjajah. Kaum santri mampu menunjukkan daya tawarnya dan kekuatannya hingga membuat penjajah tak berkutik sehingga menjadikan Arab Pegon sebagai catatan negara.

Senada dengan Ali Burhan, Muhhamad Khoiruddin, mahasiswa sejarah UGM mendapati adanya jejak Arab Pegon di Massa Kolonial. Dalam transkrip tulisan Syekh Sholeh Darat dan Kiai Ahmad Rifa’i memanfaatkan Arab Pegon untuk menuliskan sinyal pesan perlawanan pada penjajah. Penulisan dengan huruf arab namun berbahasa Jawa itu diperkirakan untuk membuat penjajah kesulitan untuk membacanya.

Tak hanya persoalan catatan nikah, Ali Romdhoni, sejarawan asal Desa Prawoto justru mendapati manuskrip yang berisikan silsilah raja-raja Demak yang juga ditulis dengan Arab Pegon. Oleh karenanya dia menilai penting untuk menggali lebih dalam peranan Arab Pegon dengan sejarah bangsa.

Bukti Baru

Temuan catatan nikah dengan Arab Pegon di KUA Prawoto sendiri dikatakannya telah menjadi bukti baru. Dia yakin, Prawoto tak hanya desa kecil di pinggiran Kabupaten Pati namun pernah menjadi pusat pemerintahan.

“Bagaimana di satu kecamatan Sukolilo ada dua KUA. Padahal lazimnya hanya satu,”terangnya.

KUA Sukolilo II yang ada di Prawoto bahkan lebih tua dari KUA yang sekarang ini ada. Uniknya lagi, dalam catatan yang ditemukan, KUA tersebut tak hanya melayani warga Desa Prawoto dan sekitarnya, rupanya banyak berasal dari warga dengan lokasi yang cukup jauh.

Saat melakukan digitalisasi naskah lawas yang masih tersisa disana, ikatan remaja masjid wali Kauman Prawoto menemukan adanya catatan nikah tertulis domisili yang menunjukkan beberapa tempat dari luar Prawoto, seperti dari Kabupaten Kudus dan Grobogan. Catatan pernikahan mereka terdapat di Prawoto.

“Selain dari bukti catatan, kami juga menemukan adanya saksi yang berasal dari Kecamatan Undaan, Kudus hingga Kecamatan Purwodadi, Grobogan,” tambahnya.

Dia menyebut, setidaknya ada tiga catatan penting yang bisa digarisbawahi tentang keberadaan arsip lawas ini. Yakni pembuktian kedudukan Prawoto sebagai pusat pemerintahan, bukti Prawoto pada masa lampau didominasi oleh kaum santri, serta keistimewaan penggunaan huruf arab pegon yang pernah menjadi  huruf administrasi negara pada masanya.(srm)

Tinggalkan Balasan