injury time ramadan
Dr H Shodiq Abdullah MAg, Ketua Yayasan Pendidikan Tinggi Nahdlatul Ulama (Yaptinu) Jepara. (foto : suaramuria..com)

PEKAN ini merupakan injury time bulan Ramadan, penghujung akhir Ramadan 1441 Hijriyah. Beberapa hari lagi bulan yang sangat dimuliakan ini, akan meninggalkan kita.

Inilah, saat saat akhir kita bersama Ramadan pada tahun ini. Ibarat pertandingan sepak bola, hari ini bagaikan masa injury time.

Semua pemain harus konsentrasi penuh, mengerahkan semua kemampuan dan tenaganya untuk meraih kemenangan dan atau mempertahankan kemenangan yang telah diraihnya.

Sebagaimana kita pahami dan yakini bahwa Ramadan adalah bulan yang mulia; bulan yang penuh ampunan dan rahmat dariAllah SWT.

Ramadan adalah bulan yang penuh berkah dan keutamaan. Ramadan adalah bulan yang didalamnya terdapat Lailatul Qodar. Kata Allah; Lailatul Qodri Khoirun Min Alfi Syahr Satu malam yang keutamaan dan nilainya melebihi 1.000 bulan.

BACA JUGA :Menyambut Malam Lailatul Qadar

Oleh karena itu, sepatutnya kita melakukan muhasabah dan merenungkan; Sudahkah kita memanfaatkan secara baik kesempatan dan keutamaan yang ada pada bulan Ramadan? Dan bagaimana seharusnya kita memanfaatkan hari-hari terakhir injury time bulan Ramadan yang penuh berkah itu?

Kerahkan Seluruh Tenaga

Ibnul Qayyim al-Jauzi rahimahullah, memberikan nasihat: Innal khoila idzaa syaaroqot nihaayatul midhmaar badzalat qushooro juhduhaa litafuuz bissabaaqi, falaa takun al-khoilu afthona minka. Fainnal a’maal bil khowaatimi, fainnaka idzaa lam tuhsin al-istiqbaala la’allaka tuhsinul al-wadaa’a.

Artinya : Jika kuda pacu sudah mendekati garis finish, ia akan mengerahkan seluruh tenaganya untuk memenangkan lomba.

Maka, jangan sampai kita kalah cerdas dari kuda. Sesungguhnya amalan itu ditentukan oleh penutupnya. Maka jika kita tidak menyambut (mengawali) Ramadan dengan baik, paling tidak melepasnya dengan baik.”

Ibnu Rajab rahimahullah juga memberikan nasihat yang lebih gamblang lagi: Ya ibaada Allah inna syahra ramadhaana qod ‘azima ala al-rahyili walam yabqo minhu illaa qaliil, faman minkum ahsana fiihi fa alaihi al-tamaam waman farratha falyahtimhu bilhusna.

Artinya: Wahai hamba-hamba Allah, sungguh bulan Ramadan ini akan segera pergi dan tidaklah tersisa darinya kecuali sedikit. Maka barang siapa telah mengisinya dengan kebaikan, hendaklah menyempurnakannya. Dan barang siapa tidak mengisinya dengan kebaikan, hendaklah ia mengakhirinya dengan yang baik.

Demikian pula Hasan al-Basri rahimahullah memberikan petunjuk dengan menyatakan: Ahsin fiimaa baqiya yughfar laka maa madlo, faghtanim maa baqiya falaa tadrii mataa tudroka rahmatallaah.

Artinya: Perbaiki yang tersisa, maka Allah akan mengampuni apa yang telah lalu. Manfaatkan hari yang masih karena kita tidak tahu kapan meraih rahmat Allah, (bisa jadi di hari terakhir Ramadhan).

Kesempurnaan di Akhir

Ibnu Taymiyyah rahimahullah juga menyatakan: Al-Ibrotu bikamaali al-nihaayaati laa binaqshi al-bidaayaati. Artinya, bahwa yang menjadi tolok ukur adalah kesempurnaan di akhir, dan bukan kekurangan di awalnya.

Demikian itulah nasihat para alim tentang bagaimana seharusnya kita memanfaatkan hari-hari akhir bulan Ramadan.

Jika pada awal dan atau pertengahan Ramadan kita belum sempat mengisi dengan amal baik, maka marilah kita segera mengisi hari-hari akhir Ramadan dengan amal yang baik; puasa, tadarus, tarawih, i’tikaf, sedekah, infaq, dan lain-lain.

Dan jika pada awal dan atau pertengahan Ramadan kita telah mengisi dengan amal baik. Maka marilah kita menyempurnakan akhir Ramadan dengan amal yang lebih baik lagi. Baik amal ritual maupun amal sosial. Ibadah mahdlah maupun ibadah ghoiru mahdlah.

Semoga Allah senantiasa melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya, sehingga kita semua mampu dan mau mengisi detik-detik akhir Ramadan tahun ini dengan amal kebaikan dan hati yang ikhlas, sehingga kita meraih predikat muttaqin. Amin. (*)

 

Penulis : Dr H Shodiq Abdullah MAg, Ketua Yayasan Pendidikan Tinggi Nahdlatul Ulama (Yaptinu) Jepara.

Tinggalkan Balasan