guru ngaji batal haji
Irham Asmani dan istrinya Ruqoyyah guru ngaji warga asal Desa Pasucen, Kecamatan Trangkil, Kabupaten Pati, yang batal berangkat haji tahun ini. (foto : suaramuria.com)

PATI, suaramuria.com – Pembatalan keberangkatan haji tahun ini menyisakan banyak kisah pilu. Banyak warga yang sudah memendam kerindungan untuk segera ke tanah suci. Tak terkecuali guru ngaji batal haji di Pati yang satu ini.

Keinginan Irham Asmani dan istrinya Ruqoyyah untuk beribadah haji di tahun ini harus dipendam. Guru ngaji yang kini telah berusia 75 tahun itu harus legawa setelah pemerintah memutuskan membatalkan pemberangkatan haji di masa pandemi tahun ini.

Sejumlah perlengkapan haji seperti baju ihram dan kebutuhan lainnya terlihat dirapikannya kembali. Perlengkapan yang sudah dibungkus plastik dengan rapi itu disimpan kembali ke dalam lemari.

Tampak di raut wajah kakek asal Desa Pasucen, Kecamatan Trangkil, Kabupaten Pati itu harus menahan kerinduan untuk datang ke tanah suci.

“Mau bagaimana lagi. Kalau ini memang keputusan pemerintah yang terbaik, ya kita mendukung,” ujar Asmani sambil sesekali menghela nafas dan menatap mata Ruqoyyah.

BACA JUGA : Haji Dibatalkan, Kemenag Jepara Kumpulkan Kepala KUA dan KBIH

Asmani pun bercerita, meski di usia senjanya, sebenarnya mereka telah mempersiapkan dengan sebaik mungkin. Baik untuk kesehatan jasmani maupun rohani. Setiap ada bimbingan haji, keduanya pun tak pernah absen untuk mengikuti.

“Saya memang sangat berharap bisa memenuhi panggilan Allah untuk beribadah di tanah suci,” ujarnya.

Meski demikian, guru ngaji yang batal haji tahun ini itu tetap mengikuti keputusan dari pemerintah. Dia hanya berharap tahun depan dia masih dapat diberi kesempatan untuk bisa mengikuti haji. Dia juga berharap agar pandemi ini bisa segera rampung sehingga proses haji bisa kembali normal.

“Semoga saya bersama istri diberika umur panjang, sehingga bisa mengikuti haji pada tahun depan, insya Allah,” harapnya.

Dengan pengetahuan agamanya, dia juga menjelaskan, adanya penundaan pemberangkatan haji ini dikatakan belum istitoah atau belum mampu untuk menjalankan ibadah haji.

“Untuk apa saya pergi ke sana (Makkah) kalau nantinya di sana malah sakit, kan percuma,” katanya. (SRM)

Tinggalkan Balasan