- Advertisement -spot_img
32 C
Kudus
Minggu, 18 April 2021
BerandaJaga SatruFase Sejarah Monumental Alun Alun Lasem

Fase Sejarah Monumental Alun Alun Lasem

- Advertisement -spot_img

Oleh : Abdullah Hamid*

 

Alun-Alun Lasem Abad 15-16

Tidak ada data tertulis yang menyebutkan kapan berdirinya Alun-Alun Lasem yang berlokasi sekarang ini. Yang jelas Nyai Ageng Maloka yang menggantikan suaminya Adipati Lasem Wiranegara yang wafat 1479, yang semula keratonnya berkedudukan di Bonang Binangun kemudian diberikan kepada Sunan Bonang adiknya untuk pesantren, kemudian keraton pindah ke Cologawen, seberang utara lokasi Alun-Alun Lasem sekarang. Nyai Ageng Malokah dalam menjalankan pemerintahan dibantu sepupu almarhum suaminya yaitu Pangeran Santi Puspa yang menempati Istana Krian, sebelah timur Alun-Alun sekarang,  Biasanya kraton atau istana membutuhkan lapangan yang luas dan dekat untuk mengumpulkan rakyatnya. Jadi diperkirakan cikal bakal alun-alun paling tidak sudah terbentuk masa itu. (Padepokan Sambua)

Pada masa Adipati Lasem Tejakusuma I atau Mbah Srimpet yang memerintah tahun 1585 sampai dengan 1632 masa Mataram Islam, Alun-Alun Lasem secara ajeg sudah terbentuk di masa tersebut dengan pola catur pathus yaitu pusat kota berupa alun-alun dengan bagian sebelah timur adalah lapangan, sebelah barat adalah tempat peribadatan, sebelah utara adalah keraton, dan sebelah selatan adalah kompleks pemukiman.

Salah satu instrumen yang kuat dalam sejarah perkotaaan adalah pengaturan teritorial, ruang dan bangunan berdasarkan konsepsi kosmografis serta kaidah penataannya. Sistem tata kota tersebut dicanangkan pertama kali di ibu kota kerajaan pada masa kejayaan Kesultanan Mataram di bawah pemerintahan Sultan Agung,  juga berlaku dan menjadi model kota praja di kadipaten negeri bawahannya termasuk Kadipaten Lasem masa itu.

Model tata kota ini adalah keraton, alun-alun, masjid jami’, dan pasar yang berada di satu kawasan terpadu. Sistem tata kota tersebut mengandung filosofi ketatanegaraan bahwa negara bisa ditata dan dibangun dengan sempurna bila struktur yang menjadi unsur-unsurnya terpenuhi sbb :

  1. Adanya rakyat yang mendukung, yang disimbolkan keberadaan alun-alun, sebagai ruang publik/ terbuka.
  2. Adanya pemerintahan, yang terwakili dengan keberadaan bangunan keraton, pusat sabda raja/ dawuh adipati.
  3. Adanya pasar kadipaten, pusat kegiatan perdagangan yang ramai dan sibuk. Tulang punggung perekonomian.
  4. Adanya Masjid Jami’, simbol kekuatan spiritual dan keagamaan benteng moral bangsa itu

Alun-alun yang menjadi symbol dan kekuatan rakyat terletak di tengah-tengah kawasan dengan lapangan yang luas yang menjadi titik pusat empat penjuru jalan terbentuknya kota. Hal ini mengartikan partisipasi rakyat menjadi indikator sangat penting.  Kewibawaan Raja haruslah terjaga, dihormati dan dan mendapat dukungan rakyatnya. Ulama yang disimbolkan masjid dapat menjalankan misi dakwahnya. Pasar yang menjadi representasi berjalannya roda atau fungsi ekonomi masyarakat.  Empat unsur tersebut  menjadi pilar utama majunya sebuah kota.   Merupakan karya monumental arsitektur tata kota asli nusantara. Sumbangan ilmu pengetahuan morfologi kota Islam nusantara.

Alun-Alun Lasem 1750

Peristiwa monumental terjadi pada bulan Agustus 1750 adanya Sumpah Prasetya oleh generasi  ke 6 Mbah Srimpet yaitu RP Margono bersama Rakyat Lasem dan adanya Weworo Perang Sabil oleh Kyai Ali Baidlowi wareng Mbah Srimpet, untuk bersama-sama melawan Kompeni Belanda. Hal tersebut ditulis dengan tinta emas di Babad Carita Lasem oleh Raden  Panji Kamzah sbb :

….Wong wong ora seneng diprentah lan dikuwasani daning “kebo bule”. Wong-wong padha gumrudug ngumpul jejel pipit ing alun-alun sangarepe Mesjid Lasem, padha sumpah prasetya maring RP Margana.”Lega lila sabaya pati sukung raga lan nyawa ngrabasa nyirnakake Kumpeni Walanda ing bumi Jawa”

Artinya :…Orang-orang tidak senang diperintah dan dikuasai oleh “kebo bule”. Mereka datang berduyun-duyun dan berkumpul di Alun-Alun depan Masjid Jami Lasem, mereka mengangkat sumpah setia kepada Raden Panji Margono untuk “ikhlas hati sehidup semati menyumbangkan jiwa raga mengusir Kompeni Belanda dari bumi Jawa”.

Ing wektu kuwi kebeneran tiba dina Jumuwah wayahe santri-santri sembahyang Jumuwahan, kang diimami Kyai Ali Badawi ing Purikawak, Kyai ngulama Islam kang bagus rupane gedhe dhuwur gagah prekosa kuwi kapernah warenge Pangeran Tejakusuma I…Sawise wingi-wingine entuk dhawuhe RP Margana, sarampungi sembahyang Jumuwah Kyai Ali Badawi nuli wewara maring kabeh umat Islam, dijak perang sabil ngrabasa nyirnakake Kumpeni Walanda sapunggawane kabeh ing Rembang. Womg-wong se masjid padha saguh kanti eklas saur manuk sarujuk perang sabil.

Artinya :…Secara kebetulan peristiwa itu bertepatan hari Jum’at, saat ummat Islam akan menunaikan shalat Jum’at. Imam dipimpin Kyai Ali Baidlowi dari Pusat Pendidikan Islam Purikawak, Sumur Kepel, Sumbergirang sekarang. Seorang ulama yang bagus parasnya dan gagah tinggi besar, termasuk salah seorang wareng dari Pangeran Tejakusuma I. Beberapa hari sebelumnya mendapat dawuh RP Margono, segera diserukan setelah selesai menjalankan shalat Jum’at. Kyai Ali Baidlowi menyampaikan seruan jihad kepada seluruh ummat Islam untuk melawan Kompeni Belanda dan kaki tangannya di Rembang. Orang-orang se masjid ikhlas, berbondong-bondong menuju Perang Sabil.

Arti penting peristiwa itu menggambarkan rakyat lasem bersatu padu dari berbagai suku dan agama.

Alun-Alun Lasem 1808

Yaitu masa kerja paksa pembangunan jalan pos atau jalan pantura dibawah Daendels. Akibatnya diperkirakan salah satu yang menyebabkkan Alun-Alun Lasem semakin berkurang luasnya. Bahkan diduga adanya bangunan kuno ikut dihancurkan.

Pemotongan jalan ini menyebabkan posisi Toponim Puri Tejokusuma I di seberang utara masjid semakin menjauh dari Alun-Alun.

Alun-Alun Lasem 1945

Kunjungan Syaikh Mahfudz Sumolangu ke Alun-Alun Lasem.. Beliau tokoh ulama pejuang kemerdekaan RI di daerah pantura Kebumen dan sekitarnya. Beliau juga orang pertama dalam pertemuan ulama di Ampel Surabaya yang mengusulkan agar Syaikh Hasyim Asy’ari ditunjuk sebagai pemimpin dan deklarator Resolusi Jihad.

Menurut KH.Maimun Zubair saat berusia 17 tahun, saat mendengar Syaikh Mahfudz datang di Alun-Alun Lasem, masyarakat sekitar Lasem sampai Tuban, tua muda rela berjalan kaki secara berduyun-duyun demi untuk bisa melihat, mendengar taushiah serta bersalaman dengannya.

Syaikh Mahfudz adalah sahabat ayahnya, KH Zubair Dahlan. Syaikh Mahfudz al-Hasani ulama yang  mampu menguasai bahasa asing seperti Arab, Belanda, Inggeris, Persia, Jepang dan Urdu dengan baik dan fasih (Pustaka Compass)

Alun-Alun Lasem 1970 an

Mengingat masa tersebut masih banyak orang yang masih hidup sampai sekarang, masih bisa menceritakan : Masa itu Alun-Alun Lasem terbuka, sebagian lahannya  pernah  menjadi terminal bus dan pasar. Bahkan tahun 1978 pasar  pernah terjadi kebakaran hebat sehingga selama 2 tahun di atas alun-alun  bersih tidak ada bangunan. Pedagang dipindah ke Pasar di Gedong Mulyo,

Alun-Alun Lasem 2020 an

Ini masa revitalisasi, Alun-Alun Lasem direncanakan akan dikembalikan seperti dahulu sebagai ruang terbuka, kawasan  yang punya nilai sejarah dan nilai luhur bangsa. Program Revitalisasi menjadi program utama Kota Pusaka Lasem yang telah disepakati pemerintah dan komunitas. Tentu dengan semangat baru dengan relevansi zamannya. Yaitu memegang janji sumpah prasetia melawan musuh bersama kita sekarang yaitu kemiskinan, kebodohan dan politik adu domba.

Selamat datang Alun-Alun Lasem 2021. Insyaallah telah realisasi, monumental. Terimakasih.

 

  • PENULIS merupakan Peserta  FGD Review DED Penataan Kawasan Pusaka Lasem tanggal 22 September 2020 yang diselenggarakan Kementerian PUPR
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img

Stay Connected

1,011PengikutMengikuti
2,458PengikutMengikuti
7,164PelangganBerlangganan

Must Read

- Advertisement -spot_img

Related News

- Advertisement -spot_img

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: