Bupati Tak Izinkan Santri Kembali ke Pesantren

0
446

PATI, suaramuria.com – Bupati Pati Haryanto belum memberikan lampu hijau berkait pembukaan kembali pondok pesantren. Bupati tak izinkan santri kembali ke pesantren dalam waktu dekat ini

Bupati Haryanto menyatakan, pembukaan kembali pesantren di Pati menunggu ketentuan resmi yang dikeluarkan Kementerian Agama (Kemenag).

“Saya sebenarnya ikut senang kalau pembelajaran (di pesantren) berlangsung normal. Tetapi saat ini kita masih hidup dalam ketidaknormalan,” ujarnya seusai rapat koordinasi pelaksanaan kegiatan pendidikan selama pandemi Covid-19 di Ruang Joyokusumo Setda Pati, Selasa (9/6).

Dia mengemukakan, sampai saat ini belum ada petunjuk resmi dari Kemenag, baik berupa surat edaran maupun peraturan Menteri Agama mengenai pembukaan kembali pondok pesantren. Karena itu niat santri yang kembali ke pesantren perlu ditunda dulu.

BACA JUGA: Pemerintah Daerah Wajib Bantu Pesantren Hadapi New Normal

“Aturan yang sudah ada baru pada tataran pembukaan tempat ibadah. Adapun terkait pesantren masih dalam konsep, dan itu agak rumit diterapkan,” katanya.

Salah satu poin dalam konsep tersebut, lanjut Bupati, yakni begitu sampai di pondok, santri diminta menjalani tes cepat (rapid test) atau tes swab (PCR). Selama belum ada tes yang menunjukkan hasil negatif Covid-19, santri diminta menjalani isolasi di tempat yang telah disediakan.

“Konsep itu tidak mudah diterapkan. Sebab tidak semua pondok pesantren bisa menyediakan tempat isolasi khusus. Bahkan, di beberapa pondok, fasilitas mandi, cuci, kakus (MCK) dan ruangan tidur pun masih sangat terbatas serta kurang memadai untuk penerapan protokol physical distancing,” paparnya.

Sangsikan Pesantren

Dia juga menyangsikan pelaksanaan protokol lain seperti menghindari bersalaman. Menurutnya bersalaman merupakan kebiasaan yang sulit diubah di pesantren. “Santri kalau bertemu kiainya pasti ingin bersalaman”.

Di sisi lain, Haryanto yang juga ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan (GTPP) Covid-19 Pati menilai pesantren di Pati memiliki tingkat kesulitan tinggi dalam mengawasi puluhan ribu santri dalam penerapan protokol kesehatan. Terlebih, santri di Pati banyak yang berasal dari luar daerah, bahkan luar negeri. Dia khawatir akan ada potensi penularan Covid-19.

“Kalau selama proses pembelajaran mungkin mudah mengawasinya. Tetapi jika di luar pembelajaran, sudah bergaul dengan teman-temannya, kan tidak bisa selalu diawasi,” lanjutnya.

Dia pun meminta pengurus pondok pesantren yang telanjur membuat surat edaran tentang waktu masuk pondok bagi santri, Haryanto meminta untuk menunda pelaksanaannya melalui surat susulan.

“Kita harus sabar. Kalau sudah ada petunjuk formal dari Kemenag, kami memiliki sandaran hukum jika muncul ada kejadian yang tidak diinginkan,” katanya.

Sementara Ketua Rabithah Ma’ahid Islamiyah Nahdlatul Ulama (RMI NU) Pati KH Muhammad Liwa Uddin telah mengeluarkan surat pemberitahuan hasil rapat koordinasi pihaknya dengan GTPP Covid-19 Pati, Forkompinda, PCNU, Kemenag, Disdikbud, serta pengasuh pesantren pada 9 Juni. Seperti pemkab, RMI juga meminta pesantren di Pati menangguhkan kedatangan santri terlebih dahulu ke pesantren.

“Sambil menunggu edaran atau pun juknis dari Kemenag RI yang mengatur dan memperbolehkan demi kemaslahatan bersama. Bagi pesantren yang telah membuat edaran jadwal masuk santi, diminta membuat surat susulan yang berisi penangguhan jadwal tersebut,” tuturnya.(SRM)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here