suara muria Bekas Galian C Ilegal Tewaskan 4 Anak, Penambang Terancam Pidana
Lokasi bekas galian C di Desa Klumpit, Kecamatan Gebog, Kabupaten Kudus yang merenggut nyawa empat anak, Rabu sore. (foto : suaramuria.com)

KUDUS, suaramuria.com – Empat anak tewas tenggelam saat bermain di kolam bekas tambang galian C ilegal di Desa Klumpit, Kecamatan Gebog, Kabupaten Kudus, Rabu (22/1/2020 sore) sore.

Penambang terancam dipidanakan akibat kelalaian melakukan reklamasi.

Warga sempat kesulitan melakukan evakuasi karena lokasi yang licin. Empat korban meninggal yakni David Raditya (13),  M Faruq Ilham (13), M Jihar Gifri (13), dan Habib Roihan (13). Keempatnya warga Desa klumpit.

Kepala Pelaksana Harian BPBD Kabupaten Kudus Bergas Catursasi Penanggungan mengatakan, keempat korban datang ke lokasi bersama dua orang temannya yang lain

“Awalnya enam anak tersebut janjian bertemu di lokasi galian C ilegal di Klumpit, sekitar jam 15.00 WIB. Empat naak turun berenang, dua lainnya hanya mengawasi di pinggir,” kata Bergas.

BACA JUGA : Pabrik Komponen Sepatu Caplok Saluran Irigasi

Nahasnya, empat anak yang lompat ke kolam bekas galian C sedalam sekitar empat meter itu tak segera muncul lagi ke permukaan. Dua temannya pun mulai panik. Keduanya kemudian lari ke perkampungan meminta bantuan warga.

Evakuasi korban dilakukan oleh warga. Keluarga sempat histeris begitu keempat anak nahas itu berhasil diangkat dari kolam. “Korban kemudian dilarikan ke RSI Sunan Kudus untuk divisum, sebelum akhirnya dipulangkan ke rumah masing-masing,” katanya.

Bekas galian C di Desa Klumpit yang menjadi kolam pada musim hujan ini sempat ditutup oleh Satpol PP. Kepala Satpol PP Kabupaten Kudus Jati Solechah mengatakan, lokasi ditutup tanggal 19 November 2019.

Melanggar Undang-Undang

Lokasi tersebut dinilai melanggar Undang-undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batu Bara dan Perda Provinsi Jateng Nomor 10 Tahun 2011 tentang Pengelolaan Pertambangan Mineral dan Batu Bara di Provinsi Jateng.

Dalam Berita Acara sosialisasi pada 19 Desember 2019, lanjut Jati, seharusnya menjadi tanggungjawab penambang untuk menutup kembali. Setelah pemasangan papan larangan aktivitas penambangan, maka ativitas pertambangan jika masih membandel bukan lagi menjadi kewenangan Satpol PP.

Aktivitas penambangan setelah penyegelan jika memang masih dilakukan, menjadi kewenangan aparat Kepolisian. Penambang pun bisa dipidanakan jika tidak melakukan reklamasi sesuai surat pernyataan yang telah dibuat.

“Ini yang dari dulu saya khawatirkan. Kasihan jika ada korban anak-anak yang tidak berdosa,” katanya. (SRM)

Tinggalkan Balasan