batik difabel pati
Seorang penyandang disabilitas di Kabupaten Pati membuat batik tulis. (foto : suaramuria.com)

PATI, suaramuria.com– Batik menjadi jalan keluar kelompok penyandang disabilitas di Kabupaten Pati untuk bangkit dari pandemi Covid-19. Di tengah berbagai kesulitan yang dihadapi, difabel yang tergabung dalam Perkumpulan Penyandang Disabilitas Indonesia (PPDI) Kabupaten Pati giat memproduksi batik tulis.

Situasi pandemi Covid-19 turut berdampak pada semua sektor. Hal itupun turut dirasakan oleh para penyandang disabilitas. Namun hal itu tak lantas membuat para disabilitas di Kabupaten Pati berpangku tangan.

Kini anggota Perkumpulan Penyandang Disabilitas Indonesia (PPDI) Kabupaten Pati justru menggiatkan aktivitasnya. Mereka senantiasa berupaya menyibukkan diri dengan kegiatan yang positif dan produktif.

Ketua PPDI Kabupaten Pati Suratno menuturkan, awalnya para difabel anggotanya kebingungan beraktivitas apa di tengah pandemi Covid-19 saat ini. “Sempat bingung karena perekonomian juga sempat mengalami masalah. Namun beruntung teman-teman berhasil bangkit kembali dengan berbagai cara,” katanya.

Salah satunya, anggotanya aktif membatik. Meski penuh keterbatasan namun hal tersebut tak menyurutkan niatnya untuk mencoretkan canting di atas kain. Hasilnya pun tak kalah dengan pengrajin batik professional.

Suratno menyebut, ia bersama rekan-rekannya sesama penyandang disabilitas mulai belajar membatik pada Januari 2020 lalu. Awalnya mereka bekerja sama dengan Mohammad Hatta Center.

“Sekitar empat bulan dari awal belajar, kami baru berani produksi kecil-kecilan,” ujarnya

Namun tak ada yang menyangka bahwa kegiatan membatik tersebut, sempat terhenti pada awal masa pandemi Covid-19 hingga beberapa bulan setelahnya. Dan hal ini pun secara otomatis membuat keresahan bagi mereka.

“Bulan Agustus,  teman-teman akhirnya memutuskan untuk membatik lagi. Sampai saat ini sudah jadi puluhan lembar bahkan ada yang sudah laku juga. Dibeli masyarakat di sekitar secretariat,” katanya.

Untuk kain batik tulis buatan mereka dijual antara Rp 200 sampai Rp 250 ribu. Sementara untuk batik cap mereka jual hanya sekitar Rp 100 ribu.

Dompet Batik

Untuk tetap menjaga produktivitas di tengah pandemi, ia menyebut, kegiatan membatik rutin dilaksanakan setiap Minggu di Kantor Sekretariat PPDI Pati. Apabila hari Minggu banyak anggota yang berhalangan, kegiatan ini akan diganti hari lain, selama tidak berbarengan dengan kegiatan lainnya.

“Awalnya hanya membuat kain batik, kini mereka mulai menghasilkan produk siap pakai berbahan batik, antara lain dompet, totebag, dan taplak meja,” terangnya

Ia mengatakan, dompet batik ukuran kecil pihaknya jual dengan harga Rp 10 ribu per buah. Adapun dompet batik berukuran besar dengan detail sedikit lebih rumit pihaknya jual dengan harga Rp 15 ribu per buah. Sementara, tote bag batik dibanderol Rp 35 ribu per buah.

Dengan kesibukan ini, Suratno berharap, mudah – mudahan aktivitas membatik tersebut bisa membantu perekonomian penyandang disabilitas di Pati. Khususnya bagi mereka yang perekonomiannya terdampak pandemi Covid – 19.

“Kami tak berhenti memotivasi pada teman-teman, setiap usaha tidak bisa langsung besar. Tetap bertahap, yang penting tekun dan sungguh-sungguh. Tidak dikerjakan setengah-setengah. Itu kuncinya,” ujarnya. (srm)

 

Tinggalkan Balasan