banjir bandang sukolilo
Sejumlah warga saat menonton bekas warung mie ayam yang longsor di sungai di Desa Sukolilo, Kecamatan Sukolilo, Kabupaten Pati. (foto : suaramuria.com)

PATI, suaramuria.com – Warung-warung yang berada di bantaran sungai menjadi perhatian setelah peristiwa banjir bandang Sukolilo yang menerjang warung mie tepat di pinggir Sungai di Desa Sukilo, Kecamatan Sukolilo, Kabupaten Pati, Minggu malam lalu.

Akibat kejadian itu, warung mie milik Slamet roboh diterjang banjir. Tiga orang menjadi korban pada peristiwa itu. Seorang tewas diketahui bernama Moh Fadilah (21), anak Slamet. Sementara dua korban lainnya selamat.

Banjir bandang Sukolilo dari gunung itu menerjang pondasi warung mie ayam hingga hanyut ke sungai. Kapolres Pati AKBP Arie Prasetya Syafaat mengatakan, musibah tersebut terjadi sekitar pukul 21.45 Minggu (17/5) malam.

BACA JUGA : Petugas Kantor Pos Pati Jemput Bola Antar BST

Saat itu sejak petang daerah Kecamatan Sukolilo memang terjadi hujan cukup deras.

Tak berapa lama kemudian pondasi kios warung tersebut tergerus debit air hingga akhirnya warung mie ayam milik Slamet yang berada di bantaran sungai tersebut ikut longsor. Padahal didalamnya saat itu memang tengah ada beberapa orang.

“Total ada tiga orang yang menjadi korban dalam kejadian itu. Satu orang meninggal dunia sementara dua orang lainnya harus mengalami perawatan intensif,” terangnya melalui Kapolsek Sukolilo AKP Supriyono.

Korban meninggal diketahui merupakan Moh Fadilah, yang merupakan anak dari pemilik warung. Pemuda berusia 21 tahun itu kebetulan tengah berada di dalam warungnya. Sementara untuk korban luka diketahui bernama Fatim, warga Desa Kayen, Kecamatan Kayen bersama anaknya bernama Moh Dafin yang baru berusia 4 tahun.

“Saat itu kebetulan anaknya tengah berada di warung, sedangkan ibunya ada di teras warung. Maka dari itu anaknya mengalami luka yang agak parah,”terang Sri seorang warga.

Proses Evakuasi

Proses evakuasi pun berjalan begitu dramatis. Dari rekaman amatir seorang warga terlihat seorang anak kecil yang dibopong dari puing warung yang ada di dalam sungai. Warga kemudian segera membawa bocah tersebut untuk mendapat perawatan medis.

“Kalau yang meninggal dunia itu sebenarnya cukup jarang berada di warung. Dia biasanya merantau. Kebetulan pulang dan saat kejadian pergi ke warung. Tidak tahunya malah terjadi musibah seperti itu,” ujarnya.

Selain korban jiwa dan korban luka, kejadian itu juga menyebabkan kerugian material yang cukup besar. Diperkirakan kerugian hingga Rp 40 juta lantaran seluruh bangunan serta perkakas warung tak dapat diselamatkan.

Untuk mengantisipasi hal yang tidak diinginkan, petugas terlihat memasang garis polisi di sekitar lokasi kejadian. Bekas warung yang masih terlihat di dasar sungai terlihat menjadi tontonan bagi warga yang melintas.(SRM)

Tinggalkan Balasan