suara muria pdam jepara

JEPARA, suaramuria.com – Komisi C DPRD Jepara melakukan inspeksi mendadak (Sidak) ke pengolahan air baku PDAM di Desa Gerdu, Kecamatan Pecangaan, Rabu (8/1/2020).

Hasilnya, air PDAM yang bersumber dari air sungai Bungpis dinyatakan tidak layak konsumsi.

”Kami melihat langsung air yang siap didistribusikan ke pelanggan, kondisi airnya memang keruh, baunya menyengat, berbuih, dan masih tercampur kotoran,” kata ketua komisi C Nur Hidayat.

BACA JUGA : Warga Keluhkan Air PDAM Keruh

Air baku PDAM yang bersumber dari sungai hanya difilter menggunakan pasir kuarsa dengan sekali penyaringan saja. Usai filtrasi, air yang bersumber dari sungai dicampur dengan air baku dari sumur dalam.

Setelah itu ditambah proses kimiawi dengan mencampurkan kaporit dengan ukuran tertentu dan langsung didistribusikan ke pelanggan.

Proses filtrasi ini dinilai sangat kurang karena air yang dihasilkan masih keruh. Padahal, sesuai  Perda No 12 Tahun 2018 tentang Perumda Air Minum Tirta Jungporo Kabupaten Jepara, pasal 1 ayat  13 menyatakan air minum adalah air bersih yang melalui proses pengelolaan atau tanpa proses pengolahan yang kualitasnya memenuhi syarat kesehatan dan dapat diminum setelah dimasak.

”Air ini saja, bagi petugas di PDAM tadi menyatakan memang tidak layak dikonsumsi. Jadi ini perlu ada perbaikan agar masyarakat tidak terus dirugikan,” katanya.

Menurutnya, sebelum difilter, PDAM harusnya menyiapkan tempat penampungan khusus untuk pengendapan. Setelah itu, baru proses filtrasi. Filter yang digunakan juga perlu dicek dan diganti secara berkala agar proses peyaringan ini bisa optimal.

”Kami perlu duduk bersama dengan manajemen PDAM untuk membahas terkait masalah ini dan mencari solusi bersama,” terangnya.

Menurutnya, kelayakan konsumsi air sangat penting bagi masyarakat, karena hal ini akan berdampak langsung bagi kesehatan masyarakat. Oleh karena itu, Komisi C DP

Operator pengolahan air baku di Desa Gerdu, Kecamatan Pecangaan Amin Tohir mengatakan, penggunaan air baku dari sungai Bungpis sebenarnya telah dilakukan sejak Tahun 2008. Hingga saat ini, filter pasir kuarsa yang dipakai baru ada penggantian sekitar tiga kali.

”Air ini sudah difilter, tapi karena sumbernya memang air sungai yang sekarang keruh, jadi hasilnya tidak bisa sebening air sumur dalam,” terangnya.

Direktur Perumda Tirta Jungporo Prabowo saat dihubungi mengaku belum bisa memberikan jawaban terkait hasil sidak dan penilai dari komisi C.

”Belum bisa memberi tanggapan,” katanya singkat. (SRM)

Tinggalkan Balasan