penderita covid-19
ilustrasi

KUDUS, suaramuria.com – Sembilan orang penderita Covid-19 di Kabupaten Kudus dinyatakan sembuh. Dari jumlah itu, empat penderita sembuh setelah menjalani isolasi mandiri.

Juru Bicara Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Kabupaten Kudus dokter Andini Aridewi mengatakan, ada tambahan 25 kasus baru penderita di Kabupaten Kudus. “Penambahan 25 kasus baru itu dari wilayah Kabupaten Kudus,” katanya.

BACA JUGA : Dana Insentif Tenaga Kesehatan Rp 5,01 Miliar Segera Cair

Hingga Jumat (7/8), total penderita yang terkonfirmasi sebanyak 959 orang. Sebanyak 764 orang penderita berasal dari Kudus, sisanya sebanyak 195 orang dari luar daerah.

Untuk penderita Covid-19 dalam wilayah, sebanyak 64 orang pasien masih dirawat dan 202 orang menjalani isolasi mandiri. Total sebanyak 407 orang penderita sembuh dan 91 orang penderita meninggal dunia.

“Untuk kasus luar wilayah dari total sebanyak 195 kasus, terdapat sebanyak delapan pasien yang dirawat dan 62 orang penderita menjalani isolasi mandiri. Sementara penderita yang sembuh sebanyak 97 orang dan sebanyak 28 orang meninggal dunia.

“Kami menekankan pentingnya melaksanakan protokol kesehatan yang ketat untuk memutus mata rantai penyebaran Covid-19,” katanya.

Ketua Tim Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Kabupaten Kudus Hartopo sebelumnya pesimistis Kudus bakal kembali ke zona hijau Covid-19.  Kudus saat ini masih masuk dalam kategori zona merah penyebaran Covid-19.

Hartopo yang juga Plt Bupati Kudus itu mengataan, zonasi penyebaran Covid-19 di Kabupaten Kudus juga tergantung dari kabupaten di wilayah eks-Karesidenan Pati.

Pasalnya, RSU Kudus menjadi rumah sakit rujukan penangaan Covid-19.  “Di RSU juga sudah memiliki alat RT-PCR untuk melakukan uji swab Covid-19. Selama daerah di wilayah eks-Karesidenan Pati penderitanya masih tinggi, Kudus susah untuk turun ke zona hijau,” kata Hartopo.

Hartopo menambahkan, cukup berat untuk menjadikan Kudus zona hijau penyebaran Covid-19. “Karena tidak bisa melakukan karantina wilayah. Kudus menjadi rumah sakit rujukan. Kami harus professional. Jadi harus menerima pasien dari luar daerah juga. Selain itu juga menjadi kota transit,” katanya. (SRM)

Tinggalkan Balasan