dadi muria
Kondisi Sungai Londo di Desa Wonosoco, Kecamatan Undaan. (foto : suaramuria.com)

KUDUS, suaramuria.com – Pemanfaatan air permukaan pertemuan Sungai Lusi dan Sungai Serang sebelum Bendung Klambu, diharapkan terealisasi 2024. Program pemerintah pusat molor dari rencana semula, yakni diancangkan pembangunan fisik tahun 2016, dan dimanfaatkan setahun kemudian. Bila terealisasi proyek ”Dadi Muria” menambah 880 pelanggan baru wilayah Kudus bagian selatan.

”Pemanfaatannya akan menambah pasokan air baku untuk Kudus bagian selatan,” kata Direktur Teknik, Yan Laksmana, didampingi Dewan Pengawas, Hermansyah Bakri Minggu (6/9).

Diakuinya, hingga saat sekarang distribusi air bersih ke Desa Kutuk, Lambangan, Glagahwaru, dan Kalirejo masih menjadi pekerjaan rumah. Pihaknya berupaya meningkatkan kualitas dan kuantitas layanan di empat desa pada Kecamatan Undaan tersebut.

”Kendala utamanya, sumber air baku setempat yang kurang baik,” tandasnya.

BACA JUGA : Dinas Pertanian “Buta” Peta Jalur Irigasi Logung

Sesuai rencana terbaru, Kabupaten Kudus mendapat alokasi 100 liter per detik dari pemanfaatan air permukaan ”Dadi Muria”. Satu liter per detik mampu memasok 88 kepala keluarga (KK).

Diyakini, pasokan air baku untuk 12 ribu pelanggan di wilayah Kecamatan Undaan, dapat ditingkatkan. Yan menyebut tidak hanya jumlah pelanggan, tetapi jam layanan.

Dadi Muria diharapkan menjadi solusi sumber air baku jangka panjang.

”Sumber air permukaan diprioritaskan pada masa mendatang,” katanya.

Rapat Koordinasi

Terkait hal tersebut, siang kemarin dilakukan rapat koordinasi di Balai Pengelolaan Sumber Daya Air Serang Lusi Juwana. Salah satu materi yang dibahas yakni soal teknis pengambilan air untuk sumber air baku. Seperti diberitakan sebelumnya, sumber air baku SPAM Dadi Muria di pertemuan sungai Lusi dan Serang.

”Teknis pengambilan seperti apa yang dibahas,” ungkapnya.

Khusus untuk Kudus, salah satu upaya yang dilakukan yakni mempersiapkan infrastruktur pendukung semisal lokasi pengolahan air. Diperkirakan, butuh biaya sekitar Rp 30 miliar untuk penyediaan sarana dan prasarana pendukung.

Semula, pasokan air bersih yang dapat disediakan mencapai 500 liter per detik. Rinciannya, untuk Kudus mendapat 200 liter per detik, Jepara (200 liter per detik) dan Grobogan (100 liter per detik). Satu liter per detik dapat melayani 80 kepala keluarga (KK). Namun, seiring dinamika yang berkembang Kudus mendapat jatah 100 liter per detik.

Air diambil dari pertemuan sungai Lusi dan Serang, atau sebelum bendung Klambu. Hal tersebut dilakukan untuk mengantisipasi potensi gesekan dengan pengguna lama yakni petani irigasi teknis Kedungombo. (SRM)

Tinggalkan Balasan